Transkripsi

Pilihan: Pesan Tahun Baru 2026

Selamat pagi semuanya, selamat menikmati hari pertama di tahun 2026 dan tentunya hari-hari berikutnya juga... Ingin berbagi suatu perenungan yang mungkin akan dapat membantu kita… tentang PILIHAN...

Pilihan

Hidup kita tampaknya tersusun dari rangkaian pengalaman yang senantiasa diwarnai oleh keputusan-keputusan yang kita anggap sebagai pilihan. Pilihan-pilihan ini dapat memunculkan kegembiraan, rasa memiliki, harapan tetapi juga kewalahan, kecemasan, kebekuan, bahkan keputusasaan.

Pertanyaannya: bagaimana kita dapat menghadirkan ketajaman tilik, keterbukaan, dan ruang kemungkinan dalam apa yang kita sebut memilih—terutama dengan melampaui pola-pola lama, gagasan dan keyakinan yang sudah kita anggap mapan tentang pilihan dan pengambilan keputusan?

Pilihan dalam Keseharian dan Kehidupan

Setiap hari kita berhadapan dengan hal-hal yang tampak sederhana: Apa yang akan saya kenakan? Apa yang ingin saya makan? Apa yang akan saya lakukan—kapan dan dengan siapa? Di saat lain, kita berhadapan dengan tema-tema besar kehidupan: pekerjaan dan arah karier, pasangan hidup, komitmen atau perpisahan, serta bagaimana kita menghabiskan waktu yang terbatas ini.

Pilihan hadir di seluruh ranah kehidupan dengan bobot yang berbeda-beda, dan terbentang di sepanjang waktu—masa lalu, kini, dan masa depan.

Harapan dan Keterikatan Pada Hasil

Kita tahu bahwa setiap keputusan membawa imbas. Semakin penting sebuah keputusan, semakin besar pula dampaknya. Karena kita merasa diri kita 'identik' dengan keputusan tersebut, timbul dorongan kuat untuk “memilih dengan benar”.

Kita memutuskan di masa kini—apa yang akan saya lakukan sekarang? Ke mana saya menaruh perhatian, minat, dan energi dari satu momen ke momen berikutnya? Namun hampir selalu, kita juga menatap ke depan: Apa yang akan terjadi jika saya melakukan ini? Bagaimana dampaknya nanti?

Walaupun kita sadar masa depan tak pernah pasti, kita tetap berharap, mengkhawatirkan, mengantisipasi, dan memprediksi. Prinsip sebab-akibat yang sederhana—melakukan ini menghasilkan itu—sering kita terapkan begitu saja pada kehidupan yang sejatinya jauh lebih kompleks dan tak terduga.

Kenyataan bahwa kita tak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi seharusnya mengingatkan kita: hidup, dalam banyak hal, berada di luar kendali kita.

Namun, sering kali harapan atas hasil masa depan berfungsi sebagai selimut pengaman—cara untuk merasa lebih nyaman, lebih memegang kendali, seolah-olah kitalah penentu penuh atas hidup ini.

Demikian pula dengan masa lalu. Kita memutar ulang keputusan-keputusan yang telah diambil, bertanya-tanya apakah itu benar atau salah, membayangkan seandainya. Padahal, pintu yang tidak dipilih telah tertutup. Jika kita memasuki Pintu A, maka yang tersisa hanyalah A1 atau A2; Pintu B tak pernah benar-benar ada lagi, selain sebagai bayangan imajinatif. Maka, mengulang-ulang seandainya sering kali tak menolong apa pun.

Hubungan Kita dengan Pilihan
Renungkan sejenak: bagaimana hubungan kita dengan pilihan dan keputusan?

Apakah kita merasakannya sebagai kegembiraan—rasa memiliki banyak kemungkinan, kontrol dan kendali? Ataukah justru sebagai beban—kecemasan, ketakutan akan salah, atau kekhawatiran terhadap konsekuensi? Atau mungkin sebagai kebekuan—menyerah, jenuh, tak tahu harus berbuat apa?

Banyak energi hidup terkuras dalam kebimbangan. Umumnya, pengalaman kita berputar di antara tiga wilayah ini:
kegembiraan dan rasa kontrol, mengendalikan,
ketakutan, kekhawatiran dan kecemasan,
kebekuan, kelelahan, dan ketidaktahuan.

Namun ada kemungkinan lain: berhubungan dengan pilihan secara lebih realistis dan terampil—tanpa menolak ketidakpastian tetapi juga tanpa sepenuhnya mempercayai narasi diri bahwa semua harus dapat dikendalikan. Di sini, kita mulai terbebas dari apa yang dapat disebut ilusi pilihan.

Mengurai Pengalaman Memilih

Sering kali, pilihan tampak jelas. Satu kemungkinan terasa lebih menarik, lebih mudah, atau lebih menyenangkan. Kita lalu berkata, “Saya memutuskan.” Pernyataan ini terdengar tegas, seolah-olah ada sosok “saya” yang sepenuhnya berdaulat.

Namun jika kita mundur sejenak dan mengamati lebih cermat, kita akan melihat betapa banyak faktor yang turut berperan: kondisi sekitar, peristiwa hari itu, bahkan cuaca. Ada pula faktor internal—pengondisian, pengalaman hidup, kecenderungan untuk tertarik, menolak, atau bersikap netral.

Bahkan juga ada semacam dorongan pengaruh daya kebiasaan dan kecenderungan yang dipicu oleh sesuatu yang pernah kita lakukan dan alami. Perngaruh daya kebiasaan ini luar biasa, dalam arti kehadirannya sering sekali muncul sesuai dengan situasi dan kondisi, baik eksternal maupun internal. Munculnya pun sangat halus, nyaris tak terasa, padahal sangat menentukan. Dalam Buddhadharma, daya kebiasaan ini dikenal sebagai vāsanā, dan rekaman tentang apa yang pernah kita lakukan dan alami ini disebut bīja.

Ketika kita hadir dengan awas, kita lebih dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi. Memperlambat proses ini dan melihat bahwa apa yang disebut pilihan muncul seperti pengalaman indrawi lain: terdengar, terasa, muncul—diikuti respons suka atau tidak suka yang telah terkondisikan.

Depersonalisasi Pilihan

Dengan pengamatan ini, pilihan mulai tampak kurang personal. Unsur “saya” kehilangan sentralitasnya, bahkan sebetulnya, 'sosok' saya tidak diperlukan. Bukan saya yang memilih, melainkan rangkaian kondisi yang bergerak.

Yang hadir hanyalah pikiran, perasaan, emosi, dan sensasi—yang sering kita salahpahami sebagai diri. Ketika ini disadari, proses memilih menjadi lebih ringan, lebih jujur, dan kurang terbebani identitas.

Ketidaktahuan yang Membebaskan

Banyak orang terjebak dalam dilema dan berkata, “Saya harus membuat keputusan.” Namun, kadang kebenaran yang paling jujur adalah: Saya tidak tahu. Apakah "Saya harus membuat keputusan, karena ini ... atau itu" atau "Saya tidak tahu". Terkadang itulah yang benar. Ini pilihan A, ini pilihan B. Saya tidak tahu yang mana yang ingin saya pilih, jika saya punya pilihan pun, saya tidak akan tahu bagaimana hasilnya nanti. Dan meskipun saya bisa berspekulasi dan merenungkan berbagai kemungkinan, saya tetap tidak tahu.

Jadi, yang kita harus biasakan dan kuasai adalah kemahiran atau keterampilan untuk merasa nyaman dengan ketidaktahuan, dan itu sangat tidak biasa atau mencekam. Yang tidak nyaman tentang "Saya tidak tahu" adalah pemikiran bahwa 'saya seharusnya tahu'. Dan mengapa saya harus tahu?

Yah, sebagian karena hal itu terasa begitu penting dalam hidup saya tetapi juga ketika saya merasa tahu, saya memutuskan, saya memilih, maka rasa diri saya yang sentral, saya yang dapat diandalkan, saya yang aman, kembali berada di tengah bingkai. Ketika saya tidak tahu, saya merasa hampa, kehilangan daya. Namun ada sesuatu yang penting, sesuatu yang ampuh dalam ketidaktahuan.

Nyaman dalam ketidaktahuan adalah latihan yang mendalam. Saya tidak tahu—tanpa ketegangan, tanpa tuntutan—adalah ruang yang terbuka dan bercahaya (urup). Dari ruang inilah tindakan yang tepat dapat muncul dengan sendirinya.

Ketika saatnya tiba untuk bertindak, kita akan bertindak. Seluruh hidup kita telah membuktikannya.
Bagaimana dan mengapa 'kita akan bertindak' bisa terjadi?

Sebenarnya, apa yang terjadi ketika kita mengatakan 'Saya tidak tahu' adalah kita sepenuhnya terbuka terhadap semua pilihan, semua opsi, bukan hanya terpengaruhi oleh kesukaan dan ketidaksukaan kita, pengalaman masa lalu, ingatan kita, kebiasaan kita, prasangka, preferensi, atau kecenderungan kita.

Ketika semua pengkondisian itu hilang, yang tersisa sebagai kekuatan untuk 'mendorong' kita membuat keputusan hanyalah motivasi dan keadaan pikiran kita.

Dan inilah yang paling penting, berpengaruh dan menentukan.

Menurut Buddhadharma, ketika keadaan pikiran tidak gelisah, jernih dan terbuka, dan motivasi bebas dari niat jahat dan altruistik, ini akan memungkinkan munculnya suatu bentuk kekuatan yang berbeda. Kekuatan daya yang akan 'mendorong', atau bahkan 'memaksa' kita untuk membuat keputusan, dan sifat pilihan kita. Ini disebut kuśalamūla, kekuatan akar kebajikan. Ini yang sebenarnya bisa kita sebut sebagai 'berkah'.

Itulah mengapa faktor terpenting dalam hidup kita adalah motivasi di hati dan pikiran kita. Motivasi yang peduli dan berkomitmen untuk membawa manfaat bagi semua.

Terbuka Terhadap Segala Kemungkinan

Dorongan dari seluruh perenungan ini adalah hidup dengan keterbukaan: terbuka pada ketidaktahuan, pada pengaruh kondisi, dan pada respons yang muncul. Dengan motivasi yang peduli dan batin yang menyejukkan, apa pun keputusan yang diambil hanya akan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan.

Pikiran dan perasaan menari bersama kehidupan diiringi dengan alunan motivasi yang peduli, yang hanya akan membawa kerahayuan bagi semua orang.

Bukan lagi beban, melainkan partisipasi sadar dalam kehidupan.
Mamayu Hayuning Bawana: ikut merawat dan memperindah keharmonisan alam semesta.

Selamat Tahun Baru semuanya ...bertekad untuk tahu bahwa kita tidak tahu sehingga dari ketidaktahuan ini muncul kejernihan dan keberanian untuk membawa kesejukan dan manfaat bagi semua dan dunia .....

Om Awigenham Astu Mugi Rahayu Sagung Dumadi

***
Penulis: Upasaka Salim Lee | 1 Januari 2026

Baca Lebih Lanjut