Transkripsi

Rasa Kasihan & Welas Asih yang Dilandasi Kepedulian

Ada perbedaan antara kasihan dan welas asih yang dilandai kepedulian (karuna).

Rasa kasihan sangat mungkin menempatkan diri kita lebih baik dari orang lain. Kasihan, dasarnya adalah emosi sehingga jika emosi itu berubah, interaksi tersebut juga berubah. Sebagai contoh, jika orang yang mengalami kesusahan adalah orang dekat atau orang yang sejalan dengan kita, maka rasa kasihan akan muncul. Sebaliknya, jika orang tersebut ‘berseberangan’ dengan kita, persoalannya mungkin lain.

Terkadang kita membantu bukan karena rasa peduli. Landasannya karena ada penolakan dan urusannya mengenai ‘saya.’ Misalnya, melakukan pemberian supaya tidak direpotkan. Motivasinya bukan untuk menghilangkan penderitaan orang lain tapi karena ada penolakan (‘rasa tidak nyaman’) dan ada yang kita inginkan (‘rasa nyaman’).

Sementara jika landasannya karuna, kita melihat bahwa ada penderitaan dan itu tidak tergantung pada objeknya: siapa yang menderita, apakah orang itu dekat dengan saya, apakah orang itu saya suka, dan sebagainya. Karuna pun ada beberapa level. Wujud dari karuna bisa dengan berbuat sesuatu, tapi yang paling ‘ultimate’ adalah HADIR dalam penderitaan itu (simply being present with WHAT IS). Kita benar-benar merasakan penderitaan mereka, dan untuk itu, dibutuhkan keberanian.

Yang Mulia Dalai Lama mengatakan demikian: “Ada perbedaan antara kasihan dan welas asih yang dilandasi kepedulian. Kasihan didasari persepsi bagaimana orang lain memperlakukan kita dan bagaimana sikap mereka terhadap kita. Di sisi lain, jika landasannya adalah kepedulian, kita berinteraksi dengan orang lain di level yang lebih mendasar, yakni mengerti bahwa seperti halnya kita ingin senang dan tidak ingin susah, begitu pula orang lain. Perspektif kita mengenai mereka tidak tergantung bagaimana sikap mereka terhadap kita.

***
Bunga Rampai: Kumpulan Ajaran Dharma oleh Upasaka Salim Lee. Februari 2019.

Baca Lebih Lanjut