Transkripsi

Melihat yang Ada - Yatha Bhuta Darshana

Setiap saat kita mengalami, biasanya paling tidak, ada dua hal yang memungkinkannya: 1) kebisaan untuk mengalami. Ini yang disebut dengan berbagai istilah seperti: awareness, consciousness, knowing, cognition, mind, clear light, dsb; 2) bentuk dan isi dari yang dialami, seperti penglihatan, suara, dsb, melalui pancaindra, pikiran, emosi, dsb, sebagai aktivitas mental.

Bentuk dan isi pengalaman ini, menurut Acarya Dharmakirti - cara pandang Sautrantika - adalah yang "real, nyata," empiris, karena berdasarkan pengalaman. Acarya Dharmakirti kemudian menunjukkan bahwa setelah informasi-informasi itu ada, semuanya dibuat menjadi sesuatu yang bisa dimengerti, yang ada gunanya (arthakriya). Dikatakan bahwa apa pun yang kita konsepkan dan tindaklanjuti, selalu memiliki tujuan, mempunyai kegunaan.

Kegunaan ini biasanya kita golongkan di antara dua pilihan: yang menopang atau yang menghalang, yang nyaman atau yang mengganggu, yang kita butuhkan dan yang kita tolak. Ini sepenuhnya masuk akal karena kita merasa hanya dengan cara begini, hidup kita lebih bisa bertahan. Hanya dengan mengerti dan memilih konsep-konsep ini, kita menentukan kualitas hidup kita, baik secara sadar maupun tidak, semuanya ditujukan untuk membahagiakan 'saya.'

Tapi, karena dasarnya selalu ingin "menambah" kebahagiaan dan "mengurangi" penderitaan, yang notabene berarti "keinginan saya selanjutnya untuk selalu mendapatkan ini dan menghilangkan itu - terpenuhi," kita akan selalu dilanda kegundahan, selalu dalam pergulatan. Jelas bahwa betapa pun seringnya keinginan itu terpenuhi, akan selalu timbul keinginan berikutnya. Belum lagi dibarengi munculnya emosi yang reaktif, yang kemudian membentuk pola kebiasaan-kebiasaan, yang lama-kelamaan menjadi seperti "tabiat dan sifat" yang pekat.

Dalam sains modern pun, sedikit demi sedikit mulai bisa diterangkan misalnya, dengan dimengertinya cara kerja hormone dopamin di badan kita. Di sini jelas bahwa sering sekali kemampuan kita untuk menggunakan pikiran dan kecerdasan selalu kabur, terhalang oleh kepekatan pola emosi-emosi reaktif tadi. Selalu dilindas oleh hasrat untuk mempertahankan hidup tadi.

Payahnya kita bingung tentang bagaimana semuanya itu bisa dibuat serba memuaskan. Dan karena sudah begitu terbiasa hidup begini, hidup dengan harapan bahwa suatu saat, akan dicapai suatu keadaan di mana semuanya serba memuaskan, di mana semua keinginan akan terpenuhi selamanya, kita pasrah bahwa hidup itu memang sudah 'ditakdirkan' untuk begini, di sini lain selalu disertai angan-angan dan harapan bahwa suatu saat kita akan menemukan kesempurnaan yang membawa kebahagiaan seterusnya. Angan-angan ini membuat kita kuatir kehilangan apa yang sudah kita miliki, dan kecemasan bahkan ketakutan terhadap apa yang akan kita alami di masa yang akan datang. Seakan-akan tidak mungkin bisa hidup selain dengan cara ini. Tampaknya hidup dengan cara begini, tidak banyak berarti, dan tidak jelas manfaatnya. Kita tidak tahu bahwa hidup seperti ini bukan satu-satunya cara.

Ini yang dijabarkan oleh Buddha.

Ada cara hidup yang lebih bermakna dan ada kebahagiaan yang otentik. Ada hidup yang tidak serba kabur, ada kehidupan yang tergugah.

Mulanya kita diajarkan cara untuk mengurangi emosi-emosi reaktif dan bahkan ditunjukkan juga cara menanggulanginya. Untuk itu juga diterangkan cara menggunakan berbagai keterampilan untuk selalu hadir sehingga dapat mendeteksi saat emosi negatif dan reaktif muncul. Di sinilah pentingnya tahu yang mana yang negatif, mana yang positif. Tantangan yang paling besar adalah kuatnya kebiasaan ingin mendapatkan atau rasa penolakan. Tetapi sekarang kita tahu bahwa semuanya itu hanyalah bentuk dan isi pengalaman, yang dipandang dari sudut saya sebagai pusatnya. Semuanya dimungkinkan karena ada kebisaan untuk mengalami.

Ini kemudian diuraikan dan dipertunjukkan oleh Buddha.

Dari segi kebisaan untuk mengalami, tidak lagi diperlukannya suatu pusat, "saya." Kebisaan untuk tahu bahwa 2 tambah 2 = 4, atau Presiden Indonesia itu Jokowi, tidak perlu suatu titik mula. Pengetahuan tentang "Si A tinggal di Jambi," atau "ada banyak bintang saat ini," tidak mengutamakan jarak. Pernyataan "saya sudah duduk beberapa jam" atau "semalam agak dingin" tidak merujuk tentang waktu. Semuanya hanya diterima, dimengerti, dan dialami. Begitu juga ketika ada keinginan atau penolakan, kesedihan atau kegembiraan, kecemburuan atau perasaan ikut senang. Semuanya hanya dialami. Tidak ada yang dikecualikan. Semuanya yang ada adalah yang dialami. Dan dari segi kebisaan untuk tahu, untuk mengalami ini, tidak ada "keinginan," dan yang ada hanya "kelanjutan" atau "respons," tanpa penggerak. Tidak lagi perlu adanya subjek maupun objek, karena kedua-duanya dialami, tidak membelah.

Dalam tradisi Zen, inilah tujuan zazen, di mana kita duduk dan mengalami duduk beserta segala yang dialami. Buat kita yang hidup di tengah keluarga dan masyarakat (yang sebetulnya hanya konsep), akan sangat menolong, paling tidak, kita selalu ingat tentang dasar dari semua yang dialami ini, dan mengikutsertakan apa pun bentuk dan isi pengalaman, tanpa buru-buru bereaksi. Kita memiliki ketahanan untuk mengalami semuanya yang tampaknya muncul silih berganti, kadang-kadang seperti saling berlawanan, anupalabdhidharmaksanti, seperti dikatakan dalam Sutra Vimalakirti Nirdesa.

Kebisaan untuk tahu dan untuk bisa mengalami ini, bisa dikatakan sama untuk segalanya, meskipun beda bentuk dan isinya. Bisa dikatakan sama buat semua mahluk, tetapi juga beda untuk masing-masing makhluk. Not one not two (tidak satu, tidak dua).

Kebisaan untuk mengalami di dasar ini yang disebut tergugah, dan untuk selanjutnya dapat mengalami dari dasar ini, disebut Buddha's mind (citta Buddha) …

***
Bunga Rampai: Kumpulan Ajaran oleh Up. Salim Lee. Januari 2018.

Baca Lebih Lanjut

Melihat yang Ada - Yatha Bhuta Darshana | Potowa Dharma Center