Transkripsi

Dopamin dan Upeksha

Di sela-sela kebersamaan dengan keluarga, saya sempat baca-baca sedikit berita. Saya sempat membaca para pemenang Hadiah Nobel yang selalu saya kagumi. Saya terhentak ketika membaca penemuan Prof. Schultz dan rekan-rekannya. Penemuan itu menerangkan tentang apa yang Buddha peringatkan tentang 'nandi' (berharap mendapat kesenangan). Ternyata sekarang terbukti bahwa sistem badan kita ini memang bersifat dukkha, artinya selalu bikin ribet karena bertujuan hanya untuk bertahan hidup dan menurunkan gen. Jadi, badan kita mempunyai sistem, menggunakan dan mengatur 'kenyamanan' sebagai cara untuk mempertahankan hidup dan berkembang biak: dopamin.

Sebagai contoh, kita makan cakwe yang enak dibarengi dengan kopi. Saat itu juga dibarengi dengan dipompanya dopamin, suatu zat kimia organik, suatu neurotransmitter, yang mengatur tingkat kenyamanan di otak, sehingga berfungsi sebagai 'pendorong' reaksi emosi kita untuk memilih mana yang nyaman; mana yang tidak nyaman. Rupa-rupanya dopamin ini 'ingat' yang nyaman, yang berguna untuk survive alias bertahan hidup, dan menolak yang 'mengancam.' Dipompanya dopamin memacu kita untuk bertindak, memilih yang 'menopang' kehidupan, yakni apabila nyaman akan dicari terus-raga, lobha; atau apabila 'mengancam' alias tidak nyaman, akan ditolak terus-dvesha, dosa.

Prof Schultz membuktikan bahwa dopamin ini ternyata 'penipu'! Karena pertama kali cakwe itu rasanya begitu enak, lain kali ketika melihat atau memikirkan cakwe, akan ada pompaan dopamin yang lebih banyak, seakan-akan reward alias imbalan dari cakwe tersebut akan lebih enak, lebih ini, lebih itu dari yang sebenarnya. Inilah definisi dari 'nandi.' Misalnya, kita makan mie Bagan di Teluk Gong untuk pertama kali, karena suka dan enak, katakanlah dopamin ini memompa 10 unit. Beberapa hari kemudian, ketika ingat mie Bagan itu, hanya ingat dan memikirkan, tidak memakannya, dopamin ini malah memompa 12 unit. Nah, akhirnya kita pergi ke sana lagi untuk makan mie Bagan, tapi saat ini dopamin hanya memberi 8 unit dopamin! Harusnya kapok, 'kan? Tapi ternyata tidak, karena sudah terlanjur merasakan mie Bagan 12 unit yang sudah tergores di angan-angan, inilah yang kita cari terus!

Contoh lain, anak kita berbuat baik, kita mendapat 10 unit dopamin. Mengingat-ingat betapa hebatnya anak kita, dapat 12 dopamin. Melihat anak berbuat yang sama, kali ini cuma dapat 8! Begitu juga terhadap hal-hal yang tidak kita sukai. Keduanya, baik yang nyaman (akan dicari lagi) maupun yang tidak nyaman (akan ditolak), pada dasarnya adalah 'desire'-keinginan untuk menjadi yang 'lebih,' maupun keinginan untuk 'tidak' mengalami atau menjadi begini-begitu.

Ini dasar dukkha, ini trsna, tanha, rasa tidak berkecukupan, perasaan yang sekarang masih kurang 'sempurna,' kurang PAS! Dibarengi juga dengan nandi, karena sudah pernah merasakan 12, jadi 10 pun kurang, apalagi 8! Ini semua sudah dijelaskan oleh Buddha dalam ajaran beliau yang pertama! Jadi akhirnya kita SELALU terkecoh. Dari segi sang dopamin, itu berhasil. Karena kita selalu merasa tidak berkecukupan, dan selalu kepingin ini dan itu. Bukankah penemuan ini mencengangkan? Barulah di tahun 2017, penemuan ini diakui dengan Penghargaan Nobel. Padahal Buddha sudah mengingatkan kita jauh sebelumnya.

Lalu bagaimana sikap kita? Menghilangkan itu jelas mustahil. Buddha itu luar biasa, begini bimbingan beliau: pertama, kita harus bisa merasakan efeknya, kemudian tahu apa yang terjadi. Lalu kalau bisa, respons kita disesuaikan, jadi jangan asal dituruti saja. Di sini yang diperlukan adalah "kebisaan untuk melihat yang ada" - yathabhuta-jnana darsana. Karena hal ini tidak mudah untuk dilihat, duddaso, apalagi dipahami, duranubodho. Dan ternyata kita juga selalu dikelabui oleh otak kita sendiri. Kebahagiaan kita tergantung dari memilih antara 'menderita' karena tahu cara kerja emosi kita, atau 'menderita' karena selalu dijajah oleh emosi kita. Yang pertama, kita punya kemungkinan untuk merespons dan menanggulanginya. Yang kedua? Selalu begitu-begitu saja, tanpa terasa, ah, satu tahun sudah hampir berlalu…

Pendekatan Guru Buddha sungguh luar biasa! Tidak perlu menganalisa tentang dopamin. Karena Guru Buddha sudah tergugah dan bertujuan menolong kita, beliau menekankan upeksha - equanimity! Upeksha tidak berarti tidak beremosi, atau tidak punya kesukaan atau ketidaksukaan, tetapi suatu sikap untuk 'let go' emosi primitif dan yang menjajah kita tadi. Baik hal yang kita suka maupun yang kita tidak suka, dihadapi dengan sikap yang sama, yaitu tahu itu HANYA perasaan. Jadi tidak berlarut-larut.

Upeksha adalah melihat dan mengalami itu semua dengan sikap yang sama, dengan keterbukaan hati tanpa dipengaruhi oleh emosi reaktif. Jadi bisa dikatakan upeksha merupakan suatu aspek dari prajna-wisdom. Karena dasarnya tahu. Misalnya, tahu bahwa segala 'hasil' pasti sudah PAS. Hanya, tinggal cara kita melihat dan menerimanya saja. Kita harus ingat bahwa sudut pandang kita sangat dipengaruhi oleh pemikiran "buat SAYA untungnya apa? Mana yang akan saya butuhkan, mana yang nyaman, mana yang tidak?" Dasar pemikiran begini memang perlu untuk mempertahankan hidup, tapi hampir dapat dipastikan akan menjadi sumber kegelisahan. Inilah yang disebut samsara.

Alternatifnya: upeksha. Tahu yang nyaman, ya nyaman; yang tidak nyaman, jelas tidak nyaman. Pertama, tidak perlu ditambahi embel-embel: "seandainya bisa begini terus atau HARUSnya tidak begini." Dengan tidak adanya ukuran pembanding, semuanya serba pas seperti yang ada, dan kalau bisa, reaksi kita pun yang pas. Tidak mengharuskan, tidak menolak, tidak mencengkeram. Kedua, bisa memikirkan respons yang terbaik. Ini sangat membantu karena kita tidak membiasakan diri bereaksi. Upeksha ini salah satu cara yang efektif untuk mengatasi (bukan menghilangkan) 'desire,' dan dengan demikian mengurangi fokus ke SAYA-nya. Sebenarnya, sosok SAYA ini hanya dibutuhkan untuk 'menggantung' keinginan untuk jadi ini, ingin jadi itu, merasa kurang ini dan itu, seharusnya begini atau begitu, dan lain sebagainya.

Jadi, kalau kita ingat ajaran Buddha, upeksha selalu menjadi tujuan dan sarana pamungkas, baik dalam Catur Apramana (Brahma Vihara): maitri, karuna, mudita, dan upeksha, maupun dalam tujuh faktor penggugahan (sapta bodhyanga; satta sambojjhanga) yaitu: smrti-sati; dharma vicaya-dhamma vicaya; virya-viriya; priti-piti; prasabdhi-passaddhi; samadhi; upeksha-upekkha. Mengapa? Karena dengan ditumbuhkembangkannya upeksha ini, hidup kita akan lebih berdasarkan pada apa yang ada, tidak dijajah oleh emosi-emosi, karena kita tahu bahwa itu hanya emosi.

Senang, susah, panas, dingin, dihina, dipuji, UP and DOWN dilihat apa adanya, meskipun masih berdampak, itu kita pahami sebagai apa yang dialami semata. Semakin kita tidak bereaksi negatif, semua emosi yang mengaduk-aduk akan semakin berkurang, lalu lama-lama akan hilang satu persatu. Tiada lagi moha, dosa, raga - mohakayo, dosakayo, ragakayo - Nirvana.

Mungkin yang bisa kita bayangkan, hidup ini seperti waktu kita naik roller-coaster, akan selalu penuh ups dan downs, tetapi selama ada yang diandalkan, semuanya akan bisa dilalui. Kalau lagi up, just enjoy being up, kalau lagi down, mau teriak juga boleh, tapi nantinya pun akan tetap oke. Repotnya, kita tidak bisa pilih untuk 'ngumpet' dan tidak berada di roller coaster ini!

Pengertian upeksha sendiri memang merupakan suatu tantangan untuk dihayati. Jauh lebih sukar dirasakan apabila dibandingkan dengan istilah seperti smrti atau sati. Terjemahan Bahasa Inggrisnya cukup mendekati, yakni equanimity atau equal, yang secara umum mempunyai pengertian berikut:

Latin: aequanimitas; having an even mind; aequus even animus mind/soul) is a state of psychological stability and composure which is undisturbed by experience of or exposure to emotions, pain, or other phenomena that may cause others to lose the balance of their mind. Calmness and composure, especially in a difficult situation.

Latin: aequanimitas; memiliki sikap yang 'sama' adalah suatu stabilitas dan ketenangan psikologis yang tidak teraduk oleh kontak atau pengalaman emosi, penderitaan, atau kejadian lainnya yang menyebabkan seseorang kehilangan keseimbangan pikirannya. Ketenangan dan kemantapan diri, terutama dalam situasi yang sulit.


Tetapi dalam Buddhadharma, arti upeksha mengarah lebih dalam, lebih luas dan jauh lebih penting, sebab upeksha adalah salah satu karakteristik dari penggugahan itu sendiri.

Menurut Prof. Robert Thurman:
Buddhist enlightenment is "the tolerance of cognitive dissonance, the ability to cope with the beauty of complexity."


Menurut Buddhadharma, penggugahan adalah "ketahanan terhadap ketidakcocokan kognitif, kemampuan untuk mengatasi indahnya kerumitan."


Meski yang tampak seakan-akan beragam bahkan bertolak belakang, tetapi kita bisa melihatnya. Jadi Buddha mempunyai kebisaan multi-perspectival alias selalu dapat melihat apa pun dari banyak sudut pandang! Salah satu cara melatih ini adalah selalu memperbesar dan memperluas 'grup di dalam' kita, yakni dengan mengikutsertakan sebanyak mungkin orang dalam in-group kita, dengan begitu kita bisa lebih berinteraksi meskipun masing-masing punya cara pandang yang lain-lain. Apakah ini mungkin?

Sehubungan dengan kemantapan, upeksha berarti punya kapasitas untuk melihat yang ada dan tidak goyah, percaya diri bahwa apa pun yang dihadapi akan dapat kita tangani; akan dapat kita hadapi. Bukan kemantapan yang 'ngotot' atas apa yang kita anggap benar, atau harusnya begini atau begitu.

Ada buku berjudul Book of Equanimity atau Book of Serenity atau Book of Composure (從容錄, Cóngróng lù), yang dirangkum oleh Wansong Xingxiu (1166-1246), diterbitkan tahun 1224. Buku ini terdiri dari koleksi 100 koan oleh seorang guru Chan, Hongzhi Zhengjue (1091-1157). Di koan nomor 20, Guru Jizo bertanya kepada Hogen:

What is the nature of his pilgrimage and Hogen replies, "I don't know." Jizo then says, "Not knowing is most intimate." Hearing that, Hogen experiences great enlightenment.


Apakah karakteristik sejati dari perjalanannya dan Hogen menjawab, "Saya tidak tahu." Jizo kemudian berkata, "Tidak tahu adalah yang paling mendalam." Mendengar itu, Hogen mengalami maha penggugahan.


Begitu menganggap kita sudah tahu, kita lalu menjadi kaku, dan tidak responsif. Sebagaimana kutipan kata-kata yang terkenal ini: "Bagi orang yang merasa dirinya pemula, ada banyak kemungkinan-kemungkinan, tapi bagi yang merasa ahli, hanya sedikit kemungkinan yang ada." Mempunyai pikiran dengan sikap 'tidak tahu' memungkinkan kita untuk menangggapi situasi-situasi dengan keterbukaan, pikiran yang segar, dan kegembiraan.

Perlu dicatat bahwa "not knowing" alias "tidak tahu" di sini bukan bodoh, stupid atau tidak bisa mengambil keputusan, tetapi tidak buru-buru takabur bilang: saya tahu! Cara pikir "yang serba tahu" inilah yang membuat kita selalu cemas karena tahu bahwa kita tidak akan bisa tahu semuanya, dan menjadi sebab timbulnya rasa jenuh dan sedih, karena merasa tahu semuanya, tapi kok yang ada hanya begini-begini saja?! No win situation!

***

Bunga Rampai: Kumpulan Ajaran Dharma oleh Upa. Salim Lee. Februari 2018.

Baca Lebih Lanjut