Transkripsi

Perhatian dan Menguasai Lapangan

Upasaka Salim Lee
The Yagyu were the masters of arms of the Tokugawa shoguns for several generations.

One gorgeous afternoon in springtime, when he was practicing with the sword, Yagyu Tajima no Kami said to one of his sons:

“One thing is sure: you’re not good for anything today. Are you distracted or what?”

“No, Father. Just the opposite. I’m all concentration. My mind is completely concentrated on my sword. I am not letting any extraneous thoughts distract me.”

“While we were sparring, did you hear the song of the nightingale?”
“No.”
“That’s just what I thought. You still haven’t understood what real concentration is.”
“What are you talking about!?”

“If the mind is aimed in just one direction, it becomes its own obstacle and is unable to respond to all situations. That is what was so well expressed in the poem of our great Zen master, Takuan Soho:
    If you look at one leaf
    You only see that.
    If you don’t look at any of them
    The whole tree appears.

#Bahasa Indonesia#:
Keluarga Yagyu adalah para guru samurai shogun-shogun Tokugawa selama beberapa generasi.

Suatu sore yang indah di musim semi ketika sedang berlatih pedang, Yagyu Tajima no Kami berkata kepada salah seorang putranya:

“Satu hal yang pasti: hari ini kamu tidak melakukannya dengan baik. Apakah perhatianmu terganggu, atau ada apa?”

“Tidak, Ayah. Justru sebaliknya. Saya sungguh-sungguh berkonsentrasi. Pikiran saya sepenuhnya terkonsentrasi pada pedang. Saya tidak membiarkan pikiran-pikiran lain mengganggu saya.”

“Sewaktu kita berduel tadi, apakah kamu mendengar kicauan burung bulbul?”
“Tidak.”
“Betul dugaanku. Kamu masih belum mengerti apa sesungguhnya konsentrasi itu.”
“Apa maksud Ayah?”

“Ketika pikiran terpusat hanya ke satu titik, itu akan menjadi halangan dan pikiran tak dapat merespons segala situasi.” Hal itu diutarakan dengan sangat jelas dalam puisi guru besar Zen kita, Takuan Soho:
    Lihat ke satu daun
    Hanya itu yang tampak.
    Tidak menatap daun tertentu (satu-satu)
    Keseluruhan pohon tampak.

#Keterangan#:

Di sini ditekankan pentingnya sati/smrti dan sampajana/samprajanya. Seandainya kita harus mengantar secangkir kopi panas dengan baki ke ruangan sebelah, apa yang kita perhatikan? Kita perlu perhatian dengan secangkir kopi panas di atas baki yang kita bawa, memastikan supaya tidak tumpah: ini smrti, perhatian ke objek. Tetapi juga perlu perhatikan lingkungan, pintu, belokan lantai, dsb: ini samprajanya (“menguasai lingkungan/lapangan”).

“Lingkungan” di sini tidak hanya lingkungan fisik, tetapi juga apa pun yang kita alami. Misalnya kita lagi marah. Jelas, yang tampil rasanya hanya kemarahan, padahal kalau kita cermat, ternyata banyak sekali yang hadir untuk terus mengipasi kemarahan tadi. Cerita-cerita, pendapat-pendapat, ingatan-ingatan, emosi-emosi lain, seperti kecewa, rasa tak berdaya, dsb. Jika kita tidak menumbuhkembangkan keterampilan – tidak hanya perhatian ke satu objek, tetapi juga keseluruhan pengalaman, kita akan mudah sekali hanyut oleh emosi-emosi kita.

***
Bunga Rampai: Kumpulan Ajaran Dharma oleh Upa. Salim Lee. Maret 2017.

Baca Lebih Lanjut