Transkripsi

Jaya Jaya Wijayanti – Kemenangan yang Membawa Kesejahteraan

Mungkin kita sering bertanya, meskipun kita sudah tahu banyak ajaran, mengapa sukar sekali menjiwainya? Mengapa masih terlalu sering dihantam oleh emosi-emosi reaktif kita, tidak ‘berdaya,’ apalagi menghentikannya, menghindar pun hampir tidak bisa. Padahal kita sudah benar-benar berusaha dengan berbagai cara, misalnya banyak berbuat ‘kebajikan,’ ikut puja, retret, dsb.

Ini sebetulnya cuma analisa yang kurang tepat. Kebajikan, puja, retret, dsb itu bagus dan banyak sekali manfaatnya, kusala (skilfull – positive action), tapi itu bukan secara langsung dapat menjadi penangkal (antidote, pratipaksha) untuk klesha, emosi reaktif kita. Seperti vitamin, ginseng, VCO, dsb itu bagus, tapi tidak akan bisa secara langsung mengatasi sakit perut.

Jelas bahwa emosi-emosi reaktif inilah yang selalu membuat kita gundah, membuat hidup kita penuh pergulatan, makanya digunakan istilah visa (racun – poison), atau klesha (affliction – reactive emotion) untuk mendeskripsikannya. Seperti racun yang larut dalam tubuh kita melalui apa saja, lambung, perut, hati, jantung, air liur, dsb – “mendarah daging,” begitu juga klesha, emosi reaktif ini sudah begitu “mendarah daging,” membentuk pola-pola jaringan yang pekat dan menyeluruh, yang penampilannya muncul hampir di segala aktivitas kita sebagai kebiasaan dalam berpikir, berkata dan bertindak.

Begitu kuatnya pola jaringan ini, sehingga semuanya tampak tidak lagi hanya “biasanya” begitu, tapi malah sudah “seharusnya” begitu – otomatis. Dan “keharusan” ini punya 2 landasan dasar: 1) Harus didapatkan: harus yang menguntungkan, harus yang membawa kesenangan, harus yang memberi kepuasan, harus yang sesuai dengan pendapat kita, dsb, 2) Harus ditolak, dijauhi: harus yang tidak menyebabkan kejengkelan, harus yang tidak membosankan, dsb.

Intinya: 1) Yang saya sukai, karena menguntungkan, dan 2) Yang tidak saya sukai, karena merugikan. Tentunya banyak juga yang tidak kita hiraukan di luar kedua kubu ini, karena kita anggap tidak akan terlalu banyak mempengaruhi hidup kita.

Makanya, di kehidupan yang begitu dilandasi dengan pekatnya pola kebiasaan, kita akan berjuang habis-habisan untuk selalu mendapatkan 2 keharusan tadi, seakan-akan selalu punya pilihan, punya pendapat bahwa ini golongan mana? 1 atau 2? Kalau 1, saya mau, kalau 2, saya tolak. Kalau kamu setuju, kamu teman saya; kalau tidak setuju kamu bukan teman saya, bahkan musuh.

Dan ini juga ada dasarnya: semuanya mengenai “Aku, Saya, Ambo, Gua, Wo.” Hal ini oke oke saja, karena masuk akal juga. Tapi payahnya kita biasanya salah total dalam pengertian tentang ‘Aku’ ini. Kita anggap “Aku” ini benar-benar ada, self-grasping (atmagraha), bukan sadar bahwa yang ada hanya pengalaman, termasuk yang mengalami. Dan ‘Aku’ yang benar-benar inilah yang paling penting, yang “harus” selalu mendapatkan apa yang dimauinya. Ini yang sangat “mendarah daging,” ini yang disebut self-cherishing, wanting things our way above all others,’ selalu ingin semuanya sesuai dengan keinginan kita, tanpa menghiraukan yang lain.

Sebetulnya inilah yang benar-benar bikin repot, karena ini membuat kita selalu memiliki “pendapat” dan hanya pendapat kitalah yang selalu “benar” dalam segalanya. Yang lain salah, tidak benar. Mempertahankan pendapat kita untuk selalu benar ini yang membuat kita gundah dan terombang-ambing. Kalau banyak orang yang setuju, kita senang sekali, minta terus dipuji, ketagihan, tetapi kalau banyak yang cuek, bahkan mengkritik, kita jadi marah, kecewa, kehilangan kepercayaan diri, meratap, sedih, rasanya hanya mau lari dan menghindar. Padahal hanya ada yang sedang dialami. Cara berpikir dan mengambil sikap bahwa PENDAPAT kita selalu harus MENANG dalam segalanya ini sangat-sangat sukar untuk diubah. Ini yang memicu emosi reaktif (klesha) kita. Ini penyebab penderitaan.

Dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, butuh BUDIDAYA untuk menanggulangi sesuatu yang sudah mendarah-daging seperti ini.

Pertama harus kita sadari, bahwa selama kita mempunyai pendapat, tentunya semua orang juga mempunyai pendapat. Jadi pendapat akan selalu beda, dan hanya ada satu cara untuk menghargai perbedaan itu, yaitu dengan tidak memperbandingkan. Biarkanlah keindahan setiap bunga pendapat itu mekar ditangkainya masing-masing dengan segala ragam, bentuk, warna maupun harumnya.

Ini yang sering dikatakan bahwa Buddhist view is a non-view. Bukan non-view karena tidak punya view, atau wishy-washy, takut komitmen. Non-view di sini adalah semua pendapat, pandangan yang muncul merupakan respons dari kondisi yang dihadapi. Non-view di sini adalah attitude, sikap yang terbuka, penuh pengertian dan fleksibilitas yang tujuannya adalah agar memungkinkan timbulnya keyakinan untuk bertindak yang terbaik. Bukan saja untuk ide ‘Aku’ tadi, tapi tindakan yang terbaik, yang berarti terbaik untuk semua, termasuk ‘Aku’ tadi. Jadi sebetulnya istilah yang lebih tepat mungkin “no-fixed-view.”

Dikatakan dalam ‘Xinxin Ming’ (信心銘; ‘Terukir Pada Hati yang Yakin’), yang ditulis oleh Sesepuh Chan ke-3, Acharya Sengcan:

The Great Way is not difficult

for those who have no preferences.

When love and hate are both absent

everything becomes clear and undisguised.

Make the smallest distinction, however,

and heaven and earth are set infinitely apart.


Jalan yang Sempurna tidak mengenal kesulitan

Bagi mereka yang tidak membuat pembedaan:

Hanya ketika bebas dari penolakan dan ketertarikan,

Semuanya menjadi jelas dan tanpa kedok.

Membuat pembedaan betapa pun kecilnya,

Akan seperti terbelahnya langit dan bumi.


If you wish to see the truth

then hold no opinions for nor against anything.

To set up what you like against what you dislike

is the disease of the mind.

When the deep meaning of things is not understood

the mind's essential peace is disturbed to no avail.


Jika engkau ingin melihat apa adanya

Jangan berpendapat pro maupun kontra.

Memperbandingkan apa yang disukai dengan yang tidak disukai –

Ini adalah penyakit pikiran.

Ketika makna dari segala sesuatu tidak dipahami

Kedamaian hati terganggu tiada hentinya.


至道無難  (zhì dào wú nán)
唯嫌揀擇  (wéi xián jiǎn zé)
但莫憎愛  (dàn mò zēng ài)
洞然明白  (dòng rán míng bái)
毫釐有差  (háo lí yǒu chā)
天地懸隔  (tiān dì xuán gé)

欲得現前 (yù de xiàn qián)
莫存順逆  (mò cún shùn nì)
違順相爭  (wéi shùn xiāng zhēng)
是爲心病   (shì wéi xīn bìng)
不識玄旨  (bù shí xuán zhǐ)
徒勞念靜  (tú láo niàn jìng)

Dhammapada 279, juga berbunyi senada dengan gatha pembuka ‘Xinxin Ming’ di atas:

sabbe dhamma anatta ti yada pabbaya passati
atha nibbindati dukkhe esa maggo visuddhiya


When one perceives with wisdom that all experiences are without substance then one turns away from suffering. This is the path of purification.

“Ketika seseorang mengalami dengan landasan prajna bahwa semua pengalaman tidak bersifat hakiki (dari sisinya sendiri) maka dia bebas dari dukkha. Ini adalah marga purifikasi.”


Begitu juga ungkapan dari Arya Nagarjuna, “sarva-drsti-prahana”:

Renunciation of all views: the abandoning all forms of dogmatism with regard to views. Non-attachment to views which does not necessarily mean having ‘no-views.’

“Gentasnya dari semua pandangan (gagasan): ditinggalkannya semua bentuk dogmatisme mengenai pandangan. Tidak terikat pada pandangan tertentu tidak berarti ‘tidak punya pandangan.’


Yang kedua, kebiasaan bahwa kita yang paling benar, harus menang dalam semua debat, itu ternyata sama sekali tidak dibutuhkan, tidak membantu, malah bikin runyam. Itu hanyalah ego-trip yang biayanya besar. Tidak ada keuntungannya, malah besar kerugiannya. Coba kita lihat, seandainya kita menghargai bahwa semua pendapat itu valid untuk masing-masing orang, kita dengar dan kita ulas. Kalau pun kita tidak setuju, paling tidak kita belajar dan tahu bahwa ada pendapat lain. Kalau disetujui, kita pun punya waktu untuk cross-check lagi, mengapa disetujui. Mungkin alasannya beda. Jadi selalu ada hikmahnya.

Kalau kita selalu mempunyai pendapat yang sudah ‘fixed’ dalam segala hal, siapa pun yang lain pendapatnya, kita anggap bodoh, kasihan, jelek, musuh, dsb. Ini akan langsung membuat kita gundah, selalu tidak nyaman – meskipun tujuan kita mulia, mau membantu, dsb. Ini pun hasilnya akan sama: kita hanya senang kalau mereka setuju, tapi akan jengkel jika mereka tidak setuju, apalagi yang membantah.

Jadi praktisnya, seandainya kita menghadapi orang yang beda pendapat dan bersikukuh bahwa dia benar, orang itu ‘normal.’ Kalau kita bersikeras bahwa orang itu gendeng dan pendapatnya salah, malah kita yang tidak fair dan meskipun normalnya begitu, malah kita yang ‘bodoh’ dan gendeng karena lupa bahwa seperti kita, semua orang punya pendapat sendiri-sendiri yang dianggapnya itu yang benar.

Maka untuk mencegah kegundahan yang sebetulnya tidak perlu terjadi ini, biarkan saja, malah hargailah pendapat orang lain. Baik yang sama, terutama yang beda, yang ‘menghina,’ yang ‘merugikan.’ Itu hanya pendapat mereka sebelum kita setuju dan menjadikan itu pendapat kita.

Jika ada yang ngotot tentang ini atau itu, paling baik adalah didengarkan, diambil hikmahnya, tidak perlu setuju kalau memang tidak perlu disetujui. Daripada adu mulut, adu jotos, kerahkan massa, dsb, lebih baik kita ucapkan: “Ah, ya, mungkin kamu benar! You are most probably right!” End of argument, end of klesha.

Saya ingat kata-kata Papa dalam Bahasa Jawa: “Mbok ojo golek menange dewe! Kalau bisa, jangan selalu ingin menang.” Kemenangan belum tentu membawa hasil yang diharapkan. Biarkan yang lain saja yang menang, paling tidak, ini tidak akan menimbulkan kegundahan, bahkan akan membawa rasa damai di hati, perasan lega yang sudah tak lagi dibebani keharusan untuk menang.

Mengenai salah satu gatha dalam ‘Delapan Gatha Transformasi Pikiran’ (Eight Verses of Mind Training) yang ditulis oleh Geshe Langri Tangpa Dorje Sengye:

Jika ada orang yang karena cemburu.

Melukai saya, menghina saya dan sebagainya.

Saya akan belajar untuk menerima kerugian itu dan

Memberikan semua kemenangan untuk mereka.


Jadi mengenai kata ‘kemenangan’ dari gatha di atas, ini adalah salah satu cara mengertinya. Sangat sederhana tapi begitu luar biasa efeknya kalau kita jalankan.

Dengan memberikan kemenangan buat yang lain, semua menang, Jaya jaya Wijayanti, kemenangan yang membawa kesejahteraan.

Have a great weekend everyone! Big love s

***
Bunga Rampai: Kumpulan Ajaran Dharma oleh Upa. Salim Lee.

Baca Lebih Lanjut

Jaya Jaya Wijayanti – Kemenangan yang Membawa Kesejahteraan | Potowa Dharma Center