Bylakuppe, Karnataka, India, 25 Desember 2013
Kita berkumpul di sini berusaha menjalani kehidupan ini dengan bermakna (mengambil intisari dari hidup ini), guna memastikan kehidupan mendatang yang baik.
Yang Mulia Dalai Lama memberikan nasihat bahwa apa pun topik dari ceramah ini, kita perlu membangkitkan motivasi yang tepat. Apakah suatu tindakan itu positif atau tidak, tergantung dari motivasi yang melandasinya. Begitu dinodai oleh salah satu dari delapan pemikiran duniawi, itu tidak lagi merupakan praktik Dharma yang tepat.
“Tidak cukup hanya mengandalkan Buddha, Dharma dan Sangha demi kehidupan ini semata, atau untuk kehidupan mendatang, atau bahkan untuk merealisasi pembebasan. Kita perlu melakukan pengandalan hingga direalisasinya Penggugahan Sempurna. Gatha yang kita lafalkan mencakup kata ‘saya,’ ketika kita mengatakan ‘agar saya merealisasi Penggugahan.’ Yang harus kita lakukan adalah memeriksa apakah ‘saya’ atau diri saya eksis sebagaimana yang tampak (seperti yang kita bayangkan).”
Setiap orang menginginkan kebahagiaan dan tidak menginginkan penderitaan. Buddha menjelaskan kekurangan-kekurangan dari pikiran yang tidak disiplin dan manfaat-manfaat dari menjinakkannya. Yang perlu kita lakukan adalah menjinakkan pikiran guna memenuhi aspirasi kita untuk bahagia, bukan untuk menyenangkan orang lain. Pikiran diselimuti oleh konsep yang keliru bahwa segala sesuatu memiliki sifat hakiki, di mana untuk mengatasinya kita perlu memahami ketidakhakikian. Dan untuk mengatasi kecenderungan mementingkan diri sendiri, cinta kasih semata tidaklah cukup; kita perlu membangkitkan bodhicitta. Oleh karena itu, kita perlu dan memberdayakan kecerdasan manusia dan menumbuhkembangkan hati yang peduli.
Yang Mulia bercerita tentang kesalahpengertian-kesalahpengertian mengenai Buddhadharma Tibet, mengingat suatu kejadian di mana Almarhum Nelson Mandela pernah memperkenalkan Yang Mulia Dalai Lama pada suatu pertemuan sebagai kepala dari Lamaisme.
Dengan menikahi seorang putri dari Tiongkok dan putri dari Nepal, yang masing-masing membawa rupang Buddha bersamanya, Raja Songtsen Gampo sebenarnya dapat mencari ajaran Buddha di Tiongkok, tetapi sebaliknya beliau beralih ke India. Saat ini terdapat pandangan yang berbeda-beda, mengenai apakah Thonmi Sambhota menciptakan teks baru untuk menerjemahkan literatur Buddhis India ke bahasa Tibet atau memperbaiki tulisan yang sudah ada. Di antara mereka, Raja Trisong Duetsan, Kepala Vihara Shantarakshita dan praktisi Padmasambhava, membangun Buddhadharma di Tibet. Itu berkembang menjadi tradisi yang mencakup seluruh ajaran Buddha, yang telah dilestarikan melalui pembelajaran dan praktik yang tekun.
Setelah Tibet pecah, raja Ngami di abad XI, Yeshe Do berniat mengundang Lama Atisha Dipankara dari Vikramashila ke Tibet di mana keponakannya mewujudkan keinginan raja tersebut. Guru-guru Kadampa yang mengikuti Lama Atisha menekankan ajaran 'Jalan Penggugahan Bertahap (Marga Krama; Lam Rim)' dan ajaran 'Gladi Pikir (Lojong),' yang merupakan tradisi Sutrayana yang berbeda dengan Tantra. Dromtonpa meneruskan berbagai ajaran Lama Atisha kepada Tiga Bersaudara (Geshe Potowa, Geshe Chengawa, dan Geshe Phuchungwa) dalam tiga silsilah yakni tradisi sutra, transmisi lisan dan instruksi intisari; Je Tsongkhapa kemudian menerima ketiga silsilah tersebut dan mengombinasikannya dalam 'Jalan Penggugahan Bertahap' untuk ketiga kapasitas makhluk. “Marga atau realisasi spiritual itulah yang membawa kita pada Penggugahan. Kita harus menerapkannya dalam pikiran kita.”
Sore itu dimulai dengan diskusi mengenai kualitas seorang guru spiritual. Bahkan di sekolah biasa pun, kualitas pendidikan tergantung pada kualitas guru. Seorang guru harus memiliki hati yang baik, yang akan menarik perhatian para murid.
Topik selanjutnya adalah tentang samadhi (perhatian yang terpadu) atau menumbuhkembangkan shamatha. Yang Mulia menjelaskan tujuh aspek postur yang optimal, posisi kepala sedikit menunduk, telapak tangan kanan di atas telapak tangan kiri dengan kedua ibu jari bersentuhan. Beliau menganjurkan praktik mengamati dan menghitung napas, mengutip teman-teman yang mampu menghitung 1.000 napas tanpa terputus, walaupun beliau mengakui bahwa menghitung dengan siklus 21 napas mungkin lebih praktis. Beliau mengutip kata-kata Je Tsongkhapa bahwa kombinasi antara Vipashyana dan Shamatha sangatlah produktif.
Yang Mulia mengatakan bahwa kita harus mengambil intisari dari kehidupan ini, yang disertai dengan kebebasan dan faktor-faktor yang mendukung. Beliau menceritakan bahwa setiap bangun pagi yang beliau pikirkan pertama-tama adalah mengingat kebaikan dan welas asih Buddha, yang memberikan beliau rasa kebahagiaan dan ketenangan. Beliau mengutip Dalai Lama V yang mengatakan bahwa apa pun yang telah beliau pelajari adalah hasil dari mengerahkan upaya. Yang Mulia juga membaca dan mengontemplasikan karya Arya Nagarjuna dan yang lainnya.
Yang Mulia menyebut bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tergantung satu sama lain untuk kelangsungan hidup. Tetapi mungkin karena begitu pandai, mereka cenderung mengabaikan masyarakat dan mengikuti pandangan yang berpusat pada diri sendiri. Anehnya, anak-anak tidak seperti itu, mereka hanya mempunyai sedikit rasa perbedaan ras atau kelas, yang sepertinya kita pelajari saat kita tumbuh dewasa. Kita perlu bertindak lebih bertanggung jawab.
Hidup ini berharga, tetapi salah satu kekeliruan kita adalah mencengkeramnya seolah-olah hidup ini konstan dan tidak berubah-ubah. Pemecahannya adalah mengontemplasikan sembilan poin dengan tiga topik utama: kematian adalah pasti, waktu kematian tidaklah pasti dan tidak kita ketahui, serta satu-satunya hal yang berharga di saat kematian adalah pengalaman Dharma kita. Bahkan kondisi-kondisi kondusif dalam hidup dapat berubah menjadi penyebab kematian.
“Jika Anda mengontemplasikan anitya, kematian dan bodhicitta di siang hari, mungkin Anda dapat mengingatnya dalam mimpi Anda. Harapan saya adalah paling tidak, saya bisa mengingat bodhicitta ketika kematian tiba. Banyak orang Barat bahkan tidak ingin mendengar kata kematian, sementara beberapa dokter kesulitan untuk memberitahukan pasien mereka bahwa mereka mengidap kanker. Sebenarnya, kita harus berpikir bahwa kita bisa meninggal kapan saja. Saya membayangkan proses kematian lima atau enam kali setiap hari dalam praktik saya. Dan saya memberitahukan ini, bukan untuk menyombongkan diri, tetapi ingin mendorong Anda untuk memikirkan kematian juga. Yang saya tahu adalah saat saya meninggal, saya tak akan hilang begitu saja; akan ada kehidupan selanjutnya yang harus saya persiapkan.”
Hari Kedua Pembabaran Lam Rim di Sera Jey
Bylakuppe, Karnataka, India, 26 Desember 2013
Beliau melanjutkan “Sumber dari Penggugahan adalah welas asih, dan tradisi berbeda-beda juga menekankan welas asih, tetapi di sini kita membicarakan tentang mahakaruna yang disertai pengertian shunyata. Karena kita mengalami berbagai tingkat intensitas dukha yang berbeda-beda, kita perlu mengenal sumbernya dan melihat apakah kita dapat menanggulanginya. Inilah konteks di mana kita menumbuhkembangkan mahakaruna dengan tujuan membebaskan semua makhluk dan menghilangkan penderitaan mereka.”
Beliau menasihati kita untuk mengembangkan pengertian dengan belajar (sruti), kontemplasi (chinta) dan meditasi (bhavana). Para Bodhisattva yang berkemampuan tajam mengembangkan praktik menyamakan dan menukar diri, di mana teks teragung mengenai praktik ini tertuang dalam karya Arya Shantideva, Menjalankan Cara Hidup Bodhisattva (Bodhisattvacharyavatara).
Buddhadharma Tibet mempelajari logika dan epistomologi dan merupakan satu-satunya tradisi Buddhis yang mempelajarinya. Ini khususnya dipelajari oleh tradisi Sakya dan Gelugpa. Mereka dengan tekun mempelajari karya tulis 17 guru besar Nalanda, demikianlah cara mereka melestarikan dan membabarkan tradisi Nalanda. Inilah yang dilakukan di tiga Vihara Besar (Sera, Drepung dan Ganden). Yang Mulia mengatakan bahwa di mana pun beliau berada, beliau yakin bahwa pembelajaran teks klasik Buddhadharma pasti berlangsung di ketiga vihara ini.
Kitab-kitab ajaran dapat digolongkan menjadi: sains, filosofi dan keagamaan. Yang tertarik pada ajaran keagamaan mungkin hanya para Buddhis, tetapi sains dan filosofi dapat bermanfaat bagi seluruh dunia. Yang Mulia menjelaskan bahwa sebuah buku tentang sains Buddhis telah disusun dan akan diterbitkan tahun baru nanti.
“Ketika Dalai Lama XIII mengirim beberapa orang Tibet ke Inggris untuk belajar, proyek ini tidak berhasil karena para kepala vihara menolaknya. Mereka mengatakan bahwa orang Barat adalah musuh, tapi coba lihat sekarang ke mana orang-orang pergi bila mereka punya kesempatan. Kita membuat kesalahan.”
Berbicara tentang pentingnya belajar dan praktik, Yang Mulia mengutip Dromtonpa yang mengatakan beliau belajar sambil praktik dan praktik sambil belajar. Beliau tidak belajar dulu dan praktik kemudian.
Beliau mengatakan bahwa jika logika dapat digunakan untuk menaklukkan pandangan yang berlawanan, maka logika seharusnya juga digunakan untuk mengatasi pandangan keliru kita, misalnya penjelasan tentang kosmologi Buddhis, karena keberadaan gunung Meru jelas-jelas tidak didukung oleh ilmu pengetahuaan modern.
Mengomentari bahwa Buddhadharma adalah belajar membedakan mana yang tepat dan yang keliru, beliau mengatakan sangatlah penting untuk mengetahui kekurangan dari sikap mementingkan diri sendiri seperti dijelaskan dalam teks Guru Puja (Lama Chöpa):
Penyakit kronis mementingkan diri sendiri
Adalah penyebab penderitaan yang tak diinginkan.
Memahami ini, berikanlah saya inspirasi untuk menyalahkan, mengalahkan
Dan menghancurkan iblis mementingkan diri sendiri ini.
Kita harus belajar mempraktikkan menyamakan dan menukar diri dengan orang lain, dan mempraktikkan meditasi memberi dan menerima (tonglen). Sehubungan dengan ini, mengontemplasikan 'Delapan Gatha Transformasi Pikiran (Eight Verses for Mind Training)' dalam kehidupan sehari-hari sangatlah bermanfaat, praktik yang dijalankan Yang Mulia setiap hari.
Setelah makan siang, beliau membicarakan tentang meditasi yang dipraktikkan di seluruh Tibet. Di masa lampau, ada sebuah tempat khusus untuk para meditator di Vihara Samye. Di situlah beberapa meditator dari Tiongkok ditaklukkan, yang menganggap bahwa dalam meditasi semua pikiran konseptual harus dihilangkan. Murid Shantarakshita, Kamalashila menulis tiga jilid 'Tahap-Tahap Meditasi (Bhavana Krama)' untuk menyangkal pandangan ini.
Mengulangi ungkapan Je Rinpoche, “Jika Anda tak dapat menjinakkan pikiran Anda sendiri, bagaimana mungkin Anda dapat membantu orang lain menjinakkan pikiran mereka” jelas Yang Mulia sambil menyampaikan bahwa di Chengdu ada banyak orang yang menyebut diri mereka ‘Lama,’ namun menjual Dharma, yang tujuan utamanya adalah uang dan seks.
Keluhan-keluhan seperti itu bukan saja terjadi di Asia; Yang Mulia menyebut dalam suatu Konferensi Guru Buddhis Barat di Dharamsala di tahun 1990-an, keluhan-keluhan disampaikan tentang perilaku keliru di antara para Guru Tibet dan Zen. Pada saat itu beliau ditanya apa yang bisa beliau lakukan: “Buddha telah memberikan nasihat yang jelas, bila orang-orang ini bahkan mengabaikan nasihat Buddha, bagaimana mungkin mereka mau mendengarkan saya?”
Beliau mengatakan bahwa bila teguran langsung terhadap mereka tidak efektif, itu harus disebarkan di media. Perilaku keliru dari Lama ini atau itu harus diselesaikan. Bila perlu, permasalahan ini bisa dibawa ke pengadilan. Beliau teringat sebuah gugatan hukum di pengadilan Amerika Serikat dan salah satu murid guru tersebut mengatakan bahwa Buddhadharma akan hancur bila si pelalu dihukum atau dipenjara. Yang Mulia menjelaskan bahwa hal tersebut tidak merusak Dharma, tetapi malah mempurifikasinya. Beliau menegaskan kembali pilihan menggunakan media untuk mengekspos perilaku keliru seperti itu.
Beliau juga menyebut bahwa masyarakat Tibet menganggap para Lama dan Tulku pasti memiliki pemahaman yang dalam dan realisasi spiritual. Dalam teks-teks Lam Rim terdapat anjuran yang jelas untuk mengecek dan menelaah kualitas-kualitas mereka.
Kembali lagi pada tradisi Nalanda yang menggunakan penalaran dan logika, Yang Mulia menyebut contoh kasus Haribadra di mana tulisan beliau ‘Ulasan Jelas (Clear Commentary)’ merupakan ulasan atas karya Maitreya, ‘Abhisamayalamkara.’ Haribadra mengikuti silsilah Asanga dan Vasubandhu, tetapi tidak keberatan untuk memberi penjelasan ‘Abhisamayalamkara’ dari sudut pandang Madhyamaka, meskipun Vasubandhu mengikuti Cittamatra. Atisha juga belajar bertahun-tahun dengan Serlingpa, guru terhebat bodhicitta, di Sumatra. Dan beliau juga mengemukakan penjelasan Madhyamaka meskipun guru-guru beliau mengikuti cara pandang Cittamatra.
Hari Ketiga Pembabaran Lam Rim di Sera Jey
Bylakuppe, Karnataka, India, 27 Desember 2013
Yang Mulia menjelaskan bahwa Je Tsongkhapa telah memberikan teladan kepada kita dari cara beliau belajar, mengontemplasikan apa yang sudah dipelajari, kemudian mempraktikkannya siang dan malam sepanjang hari. Beliau berupaya demi meyebarluaskan Dharma dan realisasi Penggugahan.
“Jika Anda mengerti kitab-kitab ajaran dan merealisasinya secara empiris, maka Anda memiliki sesuatu yang bisa dibagikan kepada mereka yang berminat pada Dharma. Anda dapat membantu orang-orang mengubah cara pandang terhadap kehidupan. Ini sangat penting pada waktu orang membutuhkan bantuan, di antaranya ada yang begitu tidak bahagia dan tertekan sehingga bunuh diri.”
Yang Mulia mengatakan bahwa kenyataan Buddha datang ke dunia, mengajarkan Dharma, dan Sangha dalam keadaan harmonis, itu adalah sumber kebahagiaan. Nirmanakaya atau Tubuh Emanasi hanya muncul sekali dalam suatu waktu. Keharmonisan dalam Sangha merupakan sumber kegembiraan dan kebahagiaan. Di sisi lain, beliau merasa aneh bahwa satu-satunya negeri Buddhis yang bisa beliau datangi secara konsisten adalah Jepang.
“Ini adalah inisiasi Nyingma saya yang pertama dan saya melakukan praktik ramalan dengan bola tepung untuk melihat apakah saya harus menghentikan pemujaan Dolgyal. Jawabannya adalah ‘ya.’ Saya mencari tahu apakah saya harus langsung berhenti sama sekali atau secara bertahap, mengingat saat itu adalah Losar (tahun baru Tibet) dan ada tradisi menjalankan ritual tertentu pada hari ketiga. Atas pertanyaan apakah saya harus menunda atau langsung berhenti, jawabannya adalah ‘langsung.’ Jadi saya berhenti, namun tidak memberitahukan siapa pun hingga saya menerima sepucuk surat dari Ganden Jangtse tentang masalah yang tengah mereka hadapi. Trijang Rinpoche memberitahu mereka bahwa itu ada kaitan dengan adanya konflik dengan Palden Lhamo, namun saya tak akan membahasnya terlalu mendetail di sini.”
“Tentang praktik ramalan dengan bola tepung, itu sudah saya lakukan sejak saya mengambil tanggung jawab atas urusan spiritual dan temporal Tibet. Ada kalanya saya mendiskusikannya dengan orang lain, namun saat tidak ada kesimpulan yang dicapai, saya mengandalkan metode ini. Ketika saya mencoba melihat apakah saya harus menghentikan praktik Dolgyal, itu bukanlah pertanyaan main-main.”
Yang Mulia menjelaskan bahwa setelah menerima inisiasi Vajrakilaya, yang merupakan inisiasi Nyingma beliau yang pertama, dari Dilgo Khyentse Rinpoche, beliau menerima transmisi-transmisi lainnya dari Trulshik Rinpoche. Beliau berujar bahwa dengan membandingkan apa yang diajarkan dalam Guhyasamaja, penjelasan-penjelasan Je Rinpoche tentang shunyata dan ajaran Nyingma akan sangat bermanfaat. Beliau mengatakan inilah awal bagaimana beliau mulai mempraktikkan gagasan non-sektarian.
Beliau mengutarakan praktik ini tidak menggoyahkan pandangannya bahwa Je Rinpoche adalah penggagas yang tiada bandingannya mengenai cara pandang Madhyamaka, juga dalam hal praktik pribadi kita semestinya tidak melupakan tradisi kita sendiri. Namun tatkala seorang praktisi Kinnauri yang secara tulus memohon padanya suatu praktik Nyingma dan beliau tidak bisa membantu, ini membuat beliau merasa menyesal. Beliau ingat dalam ‘Abhisamayalamkara’ dikatakan bahwa Bodhisattva seyogianya mengetahui semua jalan spiritual dan mengembangkannya dalam diri mereka.
"Pada hari yang penuh berkah ini, peringatan Je Tsongkhapa, mari kita lafalkan biografi spiritual beliau, ‘Terpenuhinya Tujuan Kehidupan (Destiny Fulfilled).’ Teks ini menceritakan bagaimana beliau belajar secara ekstensif semua tradisi yang berkembang di Tibet saat itu. Dalam tulisan-tulisannya, kalian bisa melihat bagaimana beliau membaca, mempelajari dan kemudian menulis secara mendetail apa yang telah beliau pahami. Mari kita ikuti langkah beliau mengenai cara belajar dan praktik.”
Mengenai kematian dan anitya, Yang Mulia mengatakan hampir semua dari kita 99% yakin kita tak akan mati sebelum akhir hari ini, namun tidak ada yang 100% yakin. Beliau teringat ketika meninggalkan Tibet pada tahun 1959, ada begitu banyak hal yang harus beliau tinggalkan, seperti pakaian-pakaian milik para Dalai Lama sebelumnya. Saat itu beliau betul-betul tak dapat membawa apa pun. Dan saat meninggalkan Norbulingka malam itu, beliau tidak tahu apakah beliau akan melihat hari esok atau tidak.
Hari Keempat Pembabaran Lam Rim di Sera Jey
Bylakuppe, Karnataka, India, 28 Desember 2013
Meneruskan pembacaan 'Kata-kata Suci Manjushri (Sacred Words of Manjushri) karya Dalai Lama V, Yang Mulia mengatakan bahwa bertemu Dharma dalam kehidupan manusia ini hanya sekali, tidak terjadi berulang-ulang. Beliau mengatakan teks ini mengandung keseluruhan makna dari ‘Risalah Mendetail Jalan Penggugahan Bertahap (Great Stages of the Path).’ Beliau juga menekankan bahwa semua tradisi Buddhis Tibet mengikuti cara belajar dan praktik tradisi Nalanda dan hal itu patut dibanggakan. Beliau juga membaca teks dari 'Jalan Cepat (Swift Path),' teks Lam Rim karya Panchen Lobsang Yeshe, dan teks dari 'Silsilah Selatan (Southern Lineage),' teks Lam Rim karya Je Gendun Jamyang, di mana mengikuti instruksi-instruksi 'Kata-kata Suci Manjushri.' Transmisi kedua teks ini diterima oleh Yang Mulia dari Trijang Rinpoche.
Beliau mengulang kisah menjelang Dromtonpa wafat. Dromtonpa membaringkan kepalanya di atas pangkuan Potowa, lalu saat setetes air mata jatuh di atas pipinya dan Dromtonpa bertanya ada apa. Potowa menjawab, “Siapa yang akan saya andalkan saat Engkau telah pergi?” Dan Dromtonpa memberitahu Potowa untuk mengandalkan kitab ajaran. Yang Mulia berkata bahwa ini adalah nasihat yang sangat tepat. Beliau mengakhiri sesi hari itu dengan berkata: “Intinya adalah apakah kita menjalani kehidupan manusia yang sangat berharga ini demi suatu tujuan yang berarti atau tidak.”
Hari Kelima Pembabaran Lam Rim di Sera Jey
Bylakuppe, Karnataka, India, 29 Desember 2013
“Bagi kita semua yang mengikuti Buddha Gautama, ajaran luas dan mendalam beliau tetap relevan dan penting hingga sekarang di abad XXI,” tegas Yang Mulia. “Welas asih dan tanpa kekerasan adalah pesan utama dari semua agama, namun yang membuat Buddhadharma unik adalah cara pandang mengenai kesalingterkaitan (Pratityasamutpada). Je Rinpoche mengatakan tak seorang pun dengan ketajaman pikirannya dapat menemukan kekeliruan tentang itu.”
Para biksu/biksuni yang mengikuti langkah Buddha telah meninggalkan kehidupan perumah tangga. Mereka perlu menggunakan kesempatan berharga ini untuk menjalankan praktik spiritual dalam konteks Empat Kenyataan Arya.
Ada dukha, tapi berhentinya dukha juga telah diajarkan. Bila Anda menyakiti makhluk lain, Anda akan mengalami penderitaan; bila Anda menolong mereka, Anda akan mengalami kebahagiaan. Masing-masing konsekuensi merupakan hasil dari citta yang tidak disiplin dan yang disiplin.
“Tak satu pun makhluk menginginkan dukha. Dukha muncul karena kesalahpengertian (avidya), yang dapat diatasi dengan menumbuhkembangkan pengertian yang tepat/lengkap (prajna).”
‘Saya bersujud kepada-Mu, Buddha Shakyamuni, yang mengajarkan Dharma suci, mengajarkan apa yang Engkau sendiri alami. Dengan mengikuti-Mu, saya akan dapat menanggulangi semua kekurangan.’ Jadi bukan karena Buddha mengajarkan ini lalu kita mengikutinya, tapi kita perlu menerapkan penalaran untuk memahaminya. Beberapa orang mendasari praktik spiritual mereka dengan kepercayaan semata, tetapi seorang Buddhis harus mendasari keyakinannya dengan logika.
“Di abad XXI ini, jumlah orang yang tertarik pada Buddhadharma bertambah. Sebagai contoh, kami mendengar ada 400 juta orang Buddhis di Tiongkok. Satu hal yang terasa aneh bagi saya adalah mengenai tradisi Maitreya, berdoa untuk bertemu dengan Maitreya di Bodhgaya, sementara kita sudah mempunyai ajaran dari Buddha Shakyamuni. Daripada mencari ajaran lain di masa mendatang, bukankah lebih baik mengambil manfaat dari ajaran yang sudah ada saat ini?”
Yang Mulia juga menyatakan bahwa ada kecenderungan untuk merujuk teks-teks Lam Rim sebagai manual praktis, seolah-olah seperti Lima Teks Klasik (Five Classic Texts) yang hanya berisikan teori. Beliau mengatakan kita tidak mendengar banyak orang berkata ‘Saya belajar Madhyamaka dan mempraktikkannya.’ Meskipun tujuan sesungguhnya adalah untuk menanggulangi sikap mementingkan diri sendiri dan kesalahpengertian tentang adanya keberadaan yang hakiki. Kenyataannya, maksud utama Lam Rim adalah mengembangkan bodhicitta.
Yang Mulia melanjutkan pembacaan tentang ‘Kata-Kata Suci Manjushri,’ dengan catatan bahwa ‘Tidak di mana pun kita dapat menghindari kematian.’ Beliau mengatakan bahwa orang-orang yang berpengaruh dan terkenal sekali pun harus menghadapi ajal. Kematian tak dapat dihindari, namun waktunya tidak pasti. Besok atau kehidupan mendatang, kita tidak tahu mana yang terjadi duluan. Satu-satunya hal yang membantu adalah kebajikan. Ketika beliau kembali pada ‘Silsilah Selatan,’ pesannya pun sama: ‘Tidak ada jaminan bahwa saya tak akan mati besok.’ Dalam ‘Jalan Cepat’ terdapat nasihat mengenai cara mengambil intisari kehidupan ini.
Ketika beliau sampai pada penjelasan mengenai Trisarana dalam ‘Kata-Kata Suci Manjushri,’ beliau mengatakan bahwa Dalai Lama XIII menyurati Phabongka Rinpoche, di mana beliau menulis: ‘Saya merasa keinginanmu untuk mengandalkan makhluk halus beringas duniawi (guna mendapatkan manfaat) dalam kehidupan ini, khususnya bertolak belakang dengan Trisarana.’
Yang Mulia lebih lanjut membaca tiga teks Lam Rim, berhenti pada satu poin untuk menjelaskan arti dari ‘bicara yang tak bermanfaat.’ Beliau berpendapat orang-orang zaman sekarang dalam keseharian menghabiskan banyak waktu untuk menonton film, cuplikan-cuplikan dan gambar-gambar, mendengar musik dan mengobrol dengan berbagai alat yang pada dasarnya mengganggu. Beliau mengatakan bila itu adalah suatu informasi, misalnya berita, mungkin ada gunanya, tetapi jika tidak, aktivitas-aktivitas demikian kelihatannya dapat dikategorikan sebagai gosip yang tak bermanfaat.
Hari Keenam Pembabaran Lam Rim di Sera Jey
Bylakuppe, Karnataka, India, 30 Desember 2013
Yang Mulia memulai pembabaran hari ini dengan mengutip sebuah bait dalam ‘Gatha-Gatha tentang Sahabat (Verses About Friends),’ karya Acharya Dharmateya:
Para Buddha tidak bisa menghapus karma makhluk lain,
Maupun meniadakan konsekuensi karma dengan tangan;
Mereka tak dapat mentransfer pemahaman mereka ke citta makhluk lain;
Mereka menghantarkan para makhluk pada pembebasan dengan mengajarkan realita.
“Dengan tekad untuk menolong semua makhluk, apa yang dilakukan para Buddha adalah mengungkap jalan spiritual.” Yang Mulia menjelaskan, “Ada dua koleksi Kangyur dan Tengyur dalam bahasa Tibet yang berisi petunjuk-petunjuk tentang apa yang harus ditumbuhkembangkan dan apa yang harus ditinggalkan.”
Kemudian ada tulisan Arya Nagarjuna, rekan-rekan dan murid-murid beliau, dalam koleksi Tengyur yang menjelaskan cara-cara mendisiplinkan citta.
“Gaya penulisan para Guru Tibet dan India berbeda. Lama Atisha menulis ‘Suluh Pada Jalan Penggugahan (Bodhipathapradipa)’ atas permintaan Raja Jangchub O, demi manfaat bagi rakyat Tibet secara umum. Rakyat Tibet belum belajar banyak hingga saat itu sehingga beliau menuliskannya dalam cara yang mudah dipahami. Sementara para Guru India menulis untuk pembaca India, dalam konteks tantangan intelektual yang lebih besar. Hal ini jelas bahkan dalam karya Arya Shantideva, 'Menjalankan Cara Hidup Bodhisattva' (Bodhisattvacharyavatara) di mana dalam bab 9 ditekankan cara pandang Madhyamaka, menyanggah pandangan lain dan membantah kritikan.”
Teks-teks Lam Rim mengatakan bahwa mengandalkan Guru membawa Anda lebih dekat pada Penggugahan, tetapi Yang Mulia mengatakan ini tak banyak membantu untuk mereka yang tak tertarik pada praktik spiritual.
Arya Nagarjuna berkata bahwa seluruh ajaran Buddha berlandaskan pada dua kenyataan: kenyataan konvensional dan kenyataan terdalam. Sebuah gatha dalam ‘Memasuki Madhyamaka (Entering into the Middle Way)’ oleh Acharya Chandrakirti menggambarkan hal ini dengan jelas:
Raja angsa terbang di depan kawanan
Dengan kedua sayap kenyataan konvensional dan kenyataan terdalam terbentang.
Terdorong maju oleh angin kebajikan,
Raja angsa menyeberangi samudra dan mencapai pantai seberang serta merealisasi kualitas-kualitas Penggugahan.
Segala sesuatu tampak memiliki keberadaan yang solid dan hakiki, dan ada orang-orang yang mencoba untuk menegaskan hal ini secara filosofis. Walaupun semua makhluk di segenap penjuru tak ingin menderita, namun memperkuat kesalahpengertian dan pandangan keliru adalah seperti mengundang lebih banyak masalah untuk dirimu sendiri. Makhluk-makhluk kebingungan. Mereka tidak mengetahui apa itu penderitaan atau cara mengatasinya. Melihat kenyataan ini, Buddha diliputi welas asih (karuna).
Yang Mulia mengatakan Buddhadharma adalah unik karena berlandaskan kedua kenyataan. Je Tsongkhapa mengagumi hal ini dalam tulisan beliau, ‘Tiga Jalan Spiritual Utama (Three Principal Aspects of the Path)’:
Ketika kedua realisasi berlangsung simultan dan bersamaan,
Dengan melihat kesalingterkaitan (Pratityasamutpada) yang tak terbantahkan
Muncul pengertian yang menghancurkan semua bentuk cengkeraman.
Pada saat itu pandangan yang mendalam telah disempurnakan.
Kembali pada pembacaan teks-teks Lam Rim, Yang Mulia menyelesaikan bagian mengenai makhluk antara (antarabhava) dalam tulisan Panchen Lobsang Yeshe, ‘Jalan Cepat.’ Beliau berkata bahwa mengenakan jubah biksu semata tidaklah cukup; kita perlu tekad yang bulat untuk bebas dari samsara.
“Setelah meninggalkan kehidupan berumah tangga dan hidup selibat, kalian harus melihat cara Buddha mempraktikkan Dharma. Sehubungan dengan ini, kita dapat melihat orang-orang di Bodhgaya menjual gambar Buddha yang kurus-kering saat beliau menjalani pertapaan. Hal ini secara jelas menggambarkan kesukaran-kesukaran yang dilalui Buddha dalam upaya merealisasi Penggugahan, ini berbeda sekali dengan jalan mudah yang biasa kita tempuh.”
Dari delapan teks utama Lam Rim, beliau kemudian melanjutkan pembacaan ‘Kata-kata Suci Manjushri,’ karya Dalai Lama V. Beliau menganjurkan hadirin untuk menyimak dengan tekad untuk merealisasi Pengguggahan demi semua makhluk. Beliau mulai membaca bagian mengenai jalan Mahayana.
Ada dua cara untuk menumbuhkembangkan bodhicitta: tujuh tahap bersebab-akibat serta menyamakan dan menukar diri atau memberi dan menerima (tonglen). Apa pun cara yang digunakan untuk mengembangkan karuna, kedua cara tersebut harus didasari pengembangan upeksha.
Setelah makan siang, Yang Mulia menerangkan garis besar pembabaran untuk hari-hari selanjutnya, dan menyebut (doa) Persembahan Panjang Umur. Beliau mengatakan bahwa secara umum, ajaran Buddha adalah agar dapat membedakan antara penampilan dan kenyataan. Dalam konteks ini beliau berkata bahwa baris-baris [doa] dalam Puja Panjang Umur yang memohon Lama (Guru) untuk hidup hingga 10.000 tahun adalah tak beralasan karena semua orang juga tahu bahwa beliau tak mungkin bisa.
“Sama halnya, kita berdoa kepada 16 Arhat, namun tak satu pun di antara mereka meninggalkan teks yang dapat kita gunakan atau mengungkap sesuatu yang dapat kita terapkan saat ini. Di sisi lain, masing-masing 17 Pandita dari Nalanda menuliskan sesuatu yang senantiasa berharga. Saya sadar mungkin saya membuat orang-orang kesal dengan mengatakan hal ini, seperti ketika saya mengunjungi Men-tsi-khang di Dharamsala, saya katakan bahwa meskipun saya sangat menghargai pengobatan Tibet, saya tidak terlalu tertarik pada astrologi. Para staf departemen astrologi menjadi demikian berkecil hati dan saya harus meyakinkan mereka bahwa terlepas apakah saya menggunakannya atau tidak, astrologi telah memiliki tempat dalam budaya Tibet. Dan karena itu, mereka harus giat melestarikannya.”
Hari Keenam Pembabaran Lam Rim di Sera Jey
Bylakuppe, Karnataka, India, 31 Desember 2013
Yang Mulia memulai dengan mengatakan “Semua pengalaman menyenangkan yang kita alami, mulai dari kebutuhan kita sehari-hari hingga praktik spiritual, adalah berkat kebaikan makhluk lain.” Yang Berpengetahuan Sempurna, Gendun Drub, Dalai lama I, mengatakan karena itu kita harus berterima kasih kepada semua makhluk. Ketika salah satu murid beliau mengatakan bahwa sebagai hasil dari aktivitas positifnya, Gendun Drab, murid dari Je Tsongkhapa, mungkin akan lahir di Sukhavati, Buddhaksetra Amitabha; beliau menjawab bahwa beliau tak punya keinginan untuk dilahirkan di Sukhavati; beliau ingin lahir kembali di antara para makhluk. Dalai Lama I mendirikan Vihara Tashi Lhunpo, sedangkan Dalai Lama II, Gendun Gyatso, mendirikan Vihara Chokorgyel di tepi Danau Lhamo Latso. Dalai Lama III, Sonam Gyatso, menghabiskan sejumlah besar hidupnya di Mongolia.”
Yang Mulia menceritakan bahwa ketika beliau meninggalkan Norbulingka, beliau membawa salinan 'Risalah Mendetail Jalan Penggugahan Bertahap' (Lam Rim Chenmo), beberapa baju, dadu ramalan milik Dalai Lama XIII, dan beberapa barang milik Dalai Lama II. Sekitar 5.000 biksu dari vihara yang berbeda-beda mengungsi dari Tibet pada waktu yang sama. Yang Mulia mengatakan bahwa beliau meminta agar 1.500 dapat ditampung bersama-sama sehingga mereka dapat melanjutkan studi dan praktik mereka. Pemerintah India menawarkan untuk menampung 300, tetapi beliau terus meminta 1.500 dan akhirnya mereka bertempat di Buxa. Namun karena makanan dan iklim sangat berbeda dengan yang mereka miliki sebelumnya, di antara mereka banyak yang meninggal. Itulah sebabnya mengapa secepatnya mereka dipindahkan ke permukiman yang ada di sini di India Selatan. Awalnya mereka hidup dengan kondisi yang sangat minim, namun secara bertahap keadaan membaik.
“Kami mengikuti tradisi murni Nalanda. Kesempatan seperti ini tak mudah didapat, jadi kami menggunakan kesempatan ini dan mencoba membuat hidup bermakna dengan mempraktikkan tiga pendidikan luas (Trishiksha). Namun jika Anda mengunakan studi Buddhadharma sebagai dasar untuk mendapatkan uang, Anda akan memperkuat sikap mementingkan diri sendiri dan kesalahpengertian tentang keberadaan hakiki. Dan itu menyedihkan.”
Saat beliau membaca bagian tentang praktik Mahayana, beliau menyebut bahwa walaupun kita menginginkan kebahagiaan, namun kita menciptakan sebab-sebab penderitaan. Bertekad untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaan dan menghantarkan mereka pada Pengguggahan, bebas dari kedua halangan, Anda harus bertanya pada diri sendiri “Apakah saya mempunyai kapasitas untuk melakukan itu?”
Bagian selanjutnya dari teks membahas praktik menyamakan dan menukar diri, di mana dalam ‘Menjalankan Cara Hidup Bodhisattva (Bodhisattvacharyavatara)’ disebut sebagai praktik ‘rahasia’ (guhya). Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa kebahagiaan makhluk lain adalah lebih penting daripada kebahagiaan kita sendiri. Je Rinpoche mengatakan bahwa jika Anda membantu makhluk lain, Anda juga mewujudkan tujuan Anda sendiri.
“Ketika Anda telah memperoleh prajna dan memahami apa yang perlu ditinggalkan dan apa yang harus ditumbuhkembangkan, Anda akan dapat mempraktikkannya secara efektif. Membantu makhluk lain melalui Sila, Kshanti, dan Virya, Anda juga mewujudkan tujuan Anda sendiri.”
Berkenaan dengan kebiasaan vegetarian, dalam Vinaya tidak ada larangan mengonsumsi daging. Seorang biksu Sri Lanka mengatakan kepada Yang Mulia bahwa ini dikarenakan para biksu yang hidup dari pindapatta (‘meminta makanan’) tidak bisa memilih apa yang akan mereka makan, mereka harus menerima apa pun yang dipersembahkan entah itu vegetarian atau tidak. Beliau menjelaskan tahun 1960-an beliau menjadi vegetarian selama berbulan-bulan sampai terkena penyakit kuning, dan sebagaimana beliau sering bercanda, untuk sementara waktu menjadi ‘Buddha Hidup’ kuning keemasan. Pada titik ini, para dokter menyarankan agar beliau kembali pada pola makan sebelumnya demi kesehatan beliau. Sekarang beliau mengonsumsi daging hanya 2 atau 3 kali dalam seminggu. Sedangkan para biksu di vihara-vihara di sini di India Selatan telah menjalankan pola makan vegetarian dan ini sangat bagus. Dikatakan bahwa Lama Atisha adalah seorang vegetarian.
Membuka sesi sore, beliau berbicara tentang Dalai Lama V, penulis ‘Kata-Kata Suci Manjushri’ yang sedang beliau bacakan.
Mengenai berbagai praktik kemurahan hati dalam teks-teks, salah satunya adalah memberi ajaran untuk menghantarkan orang-orang yang mengikuti jalan keliru pada jalan yang benar. Beliau menceritakan pembicaraan antara Gompawa, juru masak Atisha dan Dromtonpa. Gompawa berkata bahwa dia telah bekerja untuk Atisha selama bertahan-tahun, tetapi tak pernah ada waktu untuk melakukan praktik secara serius. Dromtonpa setuju, dan berkata bahwa dia juga sudah lama melayani Lama Atisha dan hanya ada sedikit waktu untuk praktik. Tetapi Dromtonpa mengatakan bahwa tiada praktik yang lebih agung daripada melayani guru spiritual kita.
Yang Mulia mengatakan bahwa kadang-kadang orang-orang yang sedang depresi mendatangi beliau. Beliau memberikan pelukan dan mengatakan pada mereka bahwa beliau juga mempunyai persoalan.
Beliau meneruskan pembacaan ‘Silsilah Selatan’ dan ‘Jalan Cepat’ beserta ‘Kata-Kata Suci Manjushri,’ menguraikan penjelasan tentang Enam Paramita.
Melihat beberapa orang India di antara hadirin, beliau menekankan bahwa secara historis Tibet menganggap orang-orang India sebagai guru mereka dan diri mereka sebagai Chela. Hal ini dimulai dengan kedatangan Shantarakshita, seorang cendekiawan terkemuka dari Nalanda, ke Tibet, atas undangan Raja Tibet, Trisong Deutsan. Beliau adalah guru sejati Buddhadharma Tibet.
“Tradisi kami berasal dari India, kami adalah pengikut sejati tradisi Nalanda. Di sisi lain, India harus berupaya menjaga praktik-praktik klasik yakni tanpa kekerasan serta melestarikan dan menjaga kerukunan hidup antar umat beragama.”
Besok akan dimulai dengan persembahan Puja Panjang Umur untuk Yang Mulia Dalai Lama.
***
Sumber: Disarikan dari pembabaran ‘Jalan Penggugahan Bertahap (Lam Rim; Marga Krama)’ oleh Yang Mulia Dalai Lama di Sera Jey, India, Desember 2013.
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center. Januari 2015.






