Karena seseorang yang mengganggap itu sukar, tak dapat berkiprah untuk memberi manfaat kepada para makhluk yang tak terhitung jumlahnya.
Sebaliknya, dia tidak terbebani, mempunyai ketahanan dan kelegaan; dia menganggap semua makhluk, baik laki-laki maupun perempuan adalah orang tua dan anak-anaknya, dengan demikian dia menjalani kehidupan sebagai seorang Bodhisattva.
Karena itu, seorang Bodhisattva seharusnya menganggap semua makhluk adalah orang tuanya atau anak-anaknya, betul, bahkan adalah dirinya sendiri, seperti ini: “Seperti halnya saya ingin bebas dari semua penderitaan, begitu juga semua makhluk ingin bebas dari semua penderitaan.”
Selain itu, terhadap semua makhluk dia seyogianya berpikir: “Saya seharusnya tidak mengabaikan semua makhluk ini. Saya harus membebaskan mereka dari tumpukan penderitaan yang sungguh tak terukur jumlahnya! Dan dalam diri saya, tak seharusnya terbersit satu pun pikiran benci terhadap mereka, meskipun jika tubuh saya dipotong-potong seratus kali!"
Demikianlah, Sariputra, cara bagaimana seorang Bodhisattva seharusnya memantapkan dan mengangkat hatinya (citta utpadayitavyam). Dengan memiliki kemantapan hati seperti itu, maka dalam segala (sarva) cara bertindak dan bersikap, tak akan pernah ada yang dianggap sukar.
***
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.
Revisi: Juli 2017.






