In any case, one who courses in the perception of difficulties is not a bodhisattva.
Because one who has generated a perception of difficulties is unable to work for the benefit of countless beings.
On the contrary, he forms the notion of ease, he forms the notion that all beings, whether men or women, are his parents and children, and thus he goes on the pilgrimage of a bodhisattva.
A bodhisattva should therefore identify all beings with his parents or children, yes, even with his own self, like this: "As I myself want to be quite free from all sufferings, just so all beings want to be quite free from all sufferings."
In addition with regard to all beings he should form the notion: "I ought not to desert all these beings. I ought to set them free from the quite measureless heap of sufferings! And I should not produce towards them a thought of hate, even though I might be dismembered a hundred times!"
It is thus, Sariputra, that a bodhisattva should lift up his heart.
When he dwells as one whose heart is such, then he will neither course nor dwell as one who perceives difficulties.
punar aparam ayusman Sariputra bodhisattvena mahasattvenaivam cittam utpadayitavyam yatha sarvena sarvam sarvatha sarvam sarva-dharma na samvidyante nopalabhyante
Bahasa Indonesia:
Saya tidak melihat ada Bodhisattva yang beranggapan jalan kehidupan ini sukar.
Bagaimanapun, seseorang yang menganggap jalan kehidupan ini sukar, bukanlah seorang Bodhisattva.
Karena seseorang yang mengganggap itu sukar, tak dapat berkiprah untuk memberi manfaat kepada para makhluk yang tak terhitung jumlahnya.
Tapi sebaliknya, dia tidak terbebani, mempunyai ketahanan dan kelegaan; dia menganggap semua makhluk, baik laki-laki maupun perempuan adalah orang tua dan anak-anaknya, dengan demikian dia menjalani kehidupan sebagai seorang Bodhisattva.
Karena itu, seorang Bodhisattva seharusnya menganggap semua makhluk adalah orang tuanya atau anak-anaknya, betul, bahkan adalah dirinya sendiri, seperti ini: “Seperti halnya saya ingin bebas dari semua penderitaan, begitu juga semua makhluk ingin bebas dari semua penderitaan.”
Selain itu, terhadap semua makhluk dia seyogianya berpikir: “Saya seharusnya tidak mengabaikan semua makhluk ini. Saya harus membebaskan mereka dari tumpukan penderitaan yang sungguh tak terukur jumlahnya! Dan dalam diri saya, tak seharusnya terbersit satu pun pikiran benci terhadap mereka, meskipun jika tubuh saya dipotong-potong seratus kali!"
Demikianlah, Sariputra, cara bagaimana seorang Bodhisattva seharusnya memantapkan dan mengangkat hatinya (citta utpadayitavyam).
Dengan memiliki kemantapan hati seperti itu, maka dalam segala (sarva) cara bertindak dan bersikap, tak akan pernah ada yang dianggap sukar.
***
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.
Agustus 2016.






