|
Di zaman dahulu kala, di India hiduplah seorang raja bernama Sivikumara. Raja yang sesungguhnya seorang Bodhisattva, terkenal akan kebajikan, prajna yang dimilikinya dan kemurahan hati. Beliau memerintah rakyatnya bagaikan seorang ayah terhadap anak-anaknya dan setiap orang mencintainya serta menghormatinya. Beliau memberikan teladan bhakti kepada rakyatnya. Rakyat mencintai keyakinan mereka, dan kedamaian serta keharmonisan meliputi seluruh kerajaan.
Di ibu kota, dimana Sivikumara memerintah, hiduplah seorang pria kaya-raya yang memiliki seorang putri yang luar biasa cantiknya. Ia dianggap sebagai mutiara di antara wanita. Dikatakan bahwa ia begitu cantiknya hingga tidak ada orang yang melihatnya tanpa menjadi linglung dan tergila-gila, oleh karena itu sanak saudaranya memanggilnya Ummada-yanti (ia yang membuat tergila-gila).
Semua pria muda kaya di kota berhasrat menjadikannya sebagai istri, tetapi sang ayah berpendapat bahwa putrinya, gadis tercantik sepatutnya menjadi ratu. Ayahnya lalu mendatangi raja dan berkata kepadanya: “Baginda, seorang dewi kecantikan telah hadir dalam keluarga saya. Putri saya adalah mutiara di antara semua wanita. Sudilah kiranya Baginda menerimanya sebagai istri.”
Raja lalu mengirim beberapa Brahmana ke rumah orang kaya tersebut dan memerintah mereka untuk melihat gadis cantik ini dan memberitahukan beliau apakah gadis tersebut cocok dijadikan sebagai ratu.
Para Brahmana mendatangi rumah ayah Ummadayanti dan sang gadis cantik harus menunggui para tamu ayahnya saat mereka bersantap. Para Brahmana begitu terpesona oleh kecantikan sang gadis sehingga mereka tak dapat berhenti menatapnya dengan penuh kekaguman. Sang ayah harus meminta putrinya menjauh agar para Brahmana dapat menikmati hidangan dengan tenteram.
Ketika para Brahmana meninggalkan tempat tinggal Ummadayanti, mereka berunding satu sama lain dan menyimpulkan bahwa kecantikan gadis ini sangatlah mempesona sehingga raja tidak disarankan untuk bertemu dengannya. Mereka berpikir bahwa jika raja menikahinya, raja pasti akan melalaikan tugas-tugas keagamaan dan pemerintahan, dan hanya mengurusi ratunya yang cantik. Mereka lalu melaporkan kepada raja bahwa sang gadis memang sangat cantik, tetapi ia memiliki tanda-tanda yang akan membawa kehancuran dan ketidakberuntungan untuk raja, sehingga disarankan agar raja tidak bertemu dengannya.
Mereka mengatakan bahwa seperti ketika bulan terselubung awan, menyembunyikan keindahan pemandangan alam dan kecemerlangan bintang-bintang, begitu pula keindahan terselubung dari seorang ratu yang penuh pesona akan menyembunyikan tindakan-tindakan bajik dari raja.
Berpikir bahwa Ummadayanti memiliki tanda-tanda yang tidak menguntungkan dan tidaklah cocok sebagai ratu di negerinya, raja memutuskan untuk tidak bertemu dengannya. Sang ayah lalu menikahkan putrinya dengan Panglima kerajaan, Ahiparaka.
Namun Ummadayanti tidak merasa puas menjadi isteri Panglima. Ia ingin menjadi Ratu sehingga ia mencoba dan menunggu kesempatan agar dapat bertemu dengan raja muda. Ia berpikir seandainya raja melihatnya, beliau akan merasa yakin bahwa dirinya, wanita tercantik di seluruh kerajaan, sepatutnya menjadi Ratu.
Akhirnya kesempatan datang bagi Ummadayanti untuk bertemu dengan raja yaitu pada saat festival Kanmudi di malam purnama bulan Oktober-November yang disebut Katika. Seluruh kota dihiasi meriah dengan bendera-bendera dan bunga-bunga, udara dipenuhi wewangian dupa dan aroma semerbak bunga-bunga yang ditebarkan di jalan berpasir putih bersih. Orang-orang berpakaian dengan meriah, berkerumun di jalan-jalan, nyanyian dan tarian berlangsung dimana-mana.
Kemudian raja berpikir bahwa beliau ingin melihat seluruh dekorasi festival di ibu kota dan beliau memerintahkan agar disiapkan kereta kerajaan. Saat sedang melihat ke sekeliling, membiarkan kuda-kudanya berjalan perlahan-lahan melintasi jalan, beliau mendekati rumah Panglimanya, Ahiparaka.
Di sana, di atas teras rumah, berdiri seorang wanita yang luar biasa cantiknya mengenakan busana sutera yang halus, wajahnya sedikit tertutup membuat pancaran kecantikannya semakin jelas. Ia menatap raja muda dengan mata hitamnya yang berkilauan. Raja menjadi agak linglung dan terpesona serta berpikir bahwa ia pastilah seorang dewi karena wanita biasa tidak mungkin secantik itu. Raja berbalik melihatnya lagi dan lagi, dan beliau selalu melihat mata gadis itu tertuju padanya. “Siapakah dia?” raja termenung. Saisnya mengatakan bahwa rumah itu adalah milik Ahiparaka dan bahwa wanita cantik yang ada di atas teras rumah adalah Ummadayanti yang terkenal, yang membuat para pemuda yang melihatnya tergila-gila.
“Nama yang indah” pikir sang raja muda, “Ia juga telah membuat saya hampir gila. Tetapi ia adalah istri orang lain dan saya harus melupakannya.”
Tetapi raja muda tidak dapat melupakan kecantikannya. Beliau sering terbayang senyumannya dan bahkan melupakan tugas-tugas kerajaan, dan karena waktu itu tidak ada jam, beliau harus diingatkan setiap setengah jam dengan pemukulan pelat logam. Sekarang beliau harus diingatkan dengan suara-suara gong ini tentang tugasnya. Sedangkan sebelum melihat Ummadayanti, beliau tidak perlu diingatkan, raja selalu siap melaksanakan tugasnya. Beliau berupaya keras melupakan Ummadayanti, namun tidur pun tak nyenyak dan bahkan makanan yang paling lezat pun tak dapat memenuhi seleranya. Beliau mulai terlihat sangat sakit, dan semangatnya untuk melakukan tugas-tugas kerajaan telah menghilang.
Panglima kerajaan yang juga adalah sahabatnya melihat duka cita sang raja, dan ia mendengar dari sais kerajaan bahwa raja berubah sejak melihat Ummadayanti. Ahiparaka meminta untuk bertemu raja dan ketika mereka hanya berdua, ia meminta raja untuk menerima istrinya Ummadayanti sebagai hadiah. Raja tidak menyangkal bahwa kecantikan wanita tersebut telah membuatnya tergila-gila, tetapi beliau menolak pemberian tersebut. Raja memberitahukan sahabatnya yang setia bahwa beliau telah mempelajari ajaran-ajaran, beliau tahu tindakan demikian sangatlah bertentangan dengan ajaran-ajaran tersebut dan bahwa tak pernah terlintas dalam benak beliau untuk menerima pemberian demikian jika beliau tahu itu akan menyebabkan kesedihan bagi sahabat sekaligus menterinya yang setia.
Meskipun Ahiparaka terus mencoba menyakinkan raja karena beliau sangat menyayanginya dan hampir memaksanya untuk menerima pemberian tersebut, raja tetap bersikukuh bahwa menerima istri sahabatnya sebagai hadiah pasti akan membawa ketidakbahagiaan untuk seluruh kerajaan karena itu adalah tindakan negatif dan contoh yang tidak baik.
Ahiparaka menjawab, “Istriku dan anak-anakku adalah pelayanmu. Oleh karena itu, Baginda tidak menentang ajaran jika menerima pelayanmu. Dikatakan bahwa siapapun yang memberikan sesuatu yang sangat berharga baginya di dunia ini, akan menerima hasil dari tindakannya di kehidupan mendatang. Oleh karena itu, Baginda membantu saya jika Baginda menerima milik saya yang paling saya cintai.
Raja berkata, “Saya sangat yakin bahwa engkau mengatakan semua ini karena terdorong oleh cinta kasihmu kepada saya, tetapi upayamu untuk membuktikan bahwa menerima hadiahmu adalah tindakan yang tepat, tak dapat diterima dan saya tidak akan mengabaikan kebajikan, tidak juga mencari kesenangan sesaat dengan resiko mengalami penderitaan setelah kematian. Orang yang bajik tidak mencari kesenangan di atas penderitaan orang lain.”
Ahiparaka masih terus bersikeras, memikirkan kebahagiaan raja dan ingin menunjukkan pengabdiannya. Dan raja bertanya kepadanya, “Siapa yang paling tahu tentang ajaran-ajaran, rakyat - engkau atau saya?”
Sang menteri menjawab, “Baginda yang paling tahu. Karena upaya dalam mempelajari ajaran-ajaran, Bagindalah yang paling berkompeten untuk memutuskan semua hal.”
Raja menjawab, “Oleh karena itu, engkau seharusnya tidak mencoba menyesatkan saya, karena saya tahu apakah rakyat bertindak negatif atau jahat tergantung perilaku penguasanya dan yang terpenting adalah saya harus melanjutkan jalan yang telah membuat saya mendapatkan cinta kasih dari rakyatku. Jika saya tidak mampu mendisiplinkan diri saya sendiri, bagaimana mungkin saya dapat memerintah rakyat saya yang mengandalkan saya sebagai pelindung dan panutan yang baik. Saya menjaga tugas-tugas keagamaan, dan reputasi yang tanpa cacat untuk kebaikan rakyat saya, dan saya harus membimbing rakyat dalam kebajikan serta tidak membiarkan nafsu keinginan mempengaruhi saya.”
Sang menteri bernamaskara dengan penuh hormat kepada raja agung dan berkata: “Berbahagialah rakyat yang memiliki seorang raja yang bajik, yang merupakan sumber kebajikan sebagaimana lautan adalah sumber permata.”
Dan raja menaklukkan keinginannya untuk memiliki wanita cantik dan beliau terus memerintah dengan damai.
Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh tim penerjemah Potowa Center.
November 2011.
|
| KEMBALI | DOWNLOAD |