|
Kisah berikut dari salah satu kehidupan Bodhisattva menunjukkan kepada kita bahwa pemberian apapun baik besar maupun kecil, jika diberikan dengan penuh shraddha kepada seseorang yang patut menerimanya, akan menghasilkan buah yang luar biasa.
Suatu ketika Bodhisattva terlahir sebagai raja di Koshala, India, memiliki semua kebajikan yang layaknya dimiliki seorang raja, seolah-olah beliau adalah ayah sesungguhnya dari rakyatnya.
Beliau adil, penuh semangat dan berpengetahuan luas. Tetapi ada satu kebajikan yang bersinar bagaikan cahaya yang memancar keluar dari pusatnya, matahari, dan itu adalah kegembiraan yang luar biasa.
Kegembiraan luar biasa ini membawa pengaruh yang menakjubkan di seluruh negeri sehingga setiap orang di negerinya kelihatan bahagia dan sentosa.
Suatu hari, ketika raja sedang melakukan tugas-tugas keagamaan, beliau teringat salah satu kelahiran beliau sebelumnya, dan karena sangat bergerak atas apa yang beliau lihat, beliau menjadi semakin bermurah hati dari sebelumnya. Para shramana dan Brahmana, para pengemis dan orang-orang tua, semuanya mendapatkan hadiah dan juga petunjuk dari beliau.
Sejak pertama kali melihat tilas balik kehidupan-kehidupan lampau beliau, raja menjadi semakin perhatian. Di istana dan di aula, beliau terdengar melafalkan gatha-gatha yang menimbulkan rasa penasaran yang luar biasa dari rakyatnya. Arti dari gatha-gatha tersebut adalah:
“Siapapun yang memberikan kebutuhan untuk orang-orang suci, meskipun dengan tindakan yang kecil, buah dari tindakan ini tidak pernah kecil. Saya pernah mendengar hal ini sebelumnya, tetapi sekarang saya tahu bahwa ini adalah benar adanya; saya telah melihat betapa buah yang berlimpah telah dihasilkan melalui seporsi kecil makanan yang hambar, bubur coklat.”
Semua Brahmana dan para penggiring raja menjadi sangat penasaran mengenai makna dari ungkapan ini, dan bahkan ratu pun sangat ingin mengetahuinya. Suatu hari, di ruang aula di hadapan semua rakyat, ratu meminta raja untuk memberitahukannya apa yang raja maksudkan dengan kata-kata yang begitu sering beliau ucapkan, “Buah yang berlimpah telah dihasilkan melalui seporsi kecil bubur.”
Dengan pandangan penuh kasih, raja menjawab ratu, “Ratuku, pantas saja engkau penasaran ingin memahami ungkapan yang aneh ini. Dengan senang hati saya akan menjelaskannya kepadamu.”
“Dengarkanlah kata-kataku, sayangku dan semua rakyatku yang hadir. Suatu hari, sewaktu berada dalam meditasi yang mendalam, saya seakan-akan terbangun dari tidur dan saya melihat kelahiranku sebelumnya di bumi, saya adalah seorang pelayan di kota ini. Saat itu saya sangat miskin dan bermata pencaharian sebagai seorang buruh.
“Suatu hari, saat hendak pergi keluar untuk mencari pekerjaan demi mendapatkan makanan untuk keluargaku, saya melihat empat Sramanera ber-pindapatta dari rumah ke rumah. Mereka adalah orang-orang suci. Dengan berpikir bahwa mereka lebih miskin dari diriku, saya membawa mereka ke rumah saya dan memberikan mereka satu-satunya makanan yang saya miliki, dan itu adalah sepiring kecil bubur.
“Ratuku dan rakyatku, tindakan kecil tersebut telah membuahkan semua kekayaanku dalam kehidupan ini. Saat saya teringat hal itu, saya melafalkan kedua gatha tersebut dan bergembira bahwa sekarang saya dapat mengundang banyak orang suci ke istanaku, dan dapat melakukan banyak tindakan kemurahan hati.”
Ketika ratu mendengar hal ini, wajahnya bersinar dalam suka cita, memandang raja dengan kekaguman dan berkata, “Agar Baginda berumur panjang sebagai ayah dari rakyatmu, Engkau yang telah mendapatkan posisi kerajaan melalui tindakan bajik di masa lampau.” Raja menjawab, “Saya akan berupaya melakukan kebajikan terhadap rakyatku, menempuh jalan kebahagiaan, dan rakyatku juga akan mencintai pemberian setelah mendengarkan kisah dari tindakanku sebelumnya, yang membawakan saya begitu banyak kebaikan. Tetapi, Ratuku, wajahmu bersinar dalam keagungan yang luar biasa. Engkau bersinar bagaikan mentari di antara bintang-bintang, mungkin Engkau juga teringat sebuah tindakan bajik yang telah Engkau lakukan dalam kehidupan sebelumnya?”
Ratu melihat ke atas dengan mata terbuka lebar, seolah-olah sedang melihat jarak yang jauh dan menjawab:
“Saya teringat kelahiranku sebelumnya: saya adalah seorang budak wanita dan miskin. Seorang bhikshu sedang ber-pindapata, dan dengan hati penuh bhakti, saya memberikan semua makanan yang saya miliki. Setelah itu, seakan-akan saya jatuh tertidur, dan seolah-olah saya terbangun sebagai Ratumu! Sungguh tepat mengatakan bahwa, ‘hasil dari melakukan pemberian terhadap orang suci tidaklah kecil’ karena itulah kata-kata dari Muni yang kepadanya saya berikan makananku ketika saya adalah seorang budak wanita dalam kelahiran terdahulu.”
Orang-orang yang hadir pada saat itu, yang mendengarkan dua kisah dari Raja dan Ratu, dipenuhi kekaguman, ketakjuban dan rasa bhakti, setelah melihat karma baik yang dihasilkan dari tindakan bajik sebelumnya yang dilakukan oleh raja dan ratu mereka. Tekad agung untuk melakukan tindakan-tindakan bajik muncul dalam diri mereka.
Melihat hal ini, raja mendorong mereka untuk bermurah hati dan menjalankan sila yang akan selalu membawa hasil-hasil terbaik.
Raja juga memberitahukan mereka bahwa melakukan pemberian adalah kebajikan luar biasa yang harus selalu dikembangkan. Kebajikan ini tak dapat dirampas oleh para pencuri maupun tak dapat dihancurkan api atau air. Melakukan pemberian akan membersihkan hati dari sikap mementingkan diri sendiri dan inilah caranya menghilangkan kelelahan melintasi samsara.
Semua yang mendengarkan kata-kata raja, mengontemplasikan kata-kata beliau, mengubah cara hidup mereka, dan sejak itu mempraktikkan kemurahan hati di bumi Koshala.
Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh tim penerjemah Potowa Center.
November 2011.
|
| KEMBALI | DOWNLOAD |